Skip navigation


Mulyanto ~ Anggota PSPI –Pusat Studi Peradaban Islam- Solo

 

Kasus Temanggung masih hangat bagi kita, penghinaan terhadap Islam yang berbuntut kerusuhan. Penghinaan tersebut bersumber dari dua buah buku yang disebarkan oleh Antonius Richmond ke rumah-rumah warga. Dua buah buku tersebut berjudul ‘Saudara Perlukah Sponsor!!’ (35 hal.n)dan ‘Ya Tuhanku Tertipu Aku’ (60 hal.).

Dalam buku, ‘Saudara Perlukan Sponsor‘, menghujat Allah SWT dan Rasulullah Muhammad. Dalam hal. 22 misalnya, Allah dianggap sebagai pakar penipu, “Allah adalah pakar tipu”. Masih di halaman yang sama juga disebutkan Allah termasuk kelompok setan.  “jadi Allah serombongan dengan setan yang suka menipu”. Lebih lanjut menyebutkan, “sewatak dengan orang kafir yang suka menipu”.

Selain menghujat Allah, dalam buku tersebut juga menghujat Rasulullah. Rasulullah dianggap sebagai orang yang diktator, memaksa masuk Islam dengan pedang. “Muhammad memproklamirkan bahwa Allah adalah Yang Maha Kuasa dan Muhammad adalah Rasul Allah (Dua Kalimat Syahadat). Tanpa upaya pembuktian, melainkan dengan pendekatan kediktator-an. Yang menolak dalil Muhammad akan berhadapan dengan pedang. Sedang dalam halaman 23 disebutkan Rasulullah sebagai pembual. “Di pihak lain, Muhammad membual bahwa Allah adalah pengasih dan penyayang dan tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam.”

Sementara  dalam buku ‘Ya Tuhanku, Tertipu Aku!’ Disebutkan bahwa Hajar Aswad sebagai simbol kelamin wanita. Dalam ibadah haji, melempar jumrah dianggap sedang melempari menara yang menjadi simbol kelamin laki-laki. Sementara Surga dan Neraka dalam Islam dianggap sebagai tipuan, karena menurut buku tersebut surga hanyalah tempat untuk memuaskan nafsu, bahkan menghalalkan yang diharamkan Allah. “Batu Hitam (Hajar Aswad). Betapa serius para Calon Haji mencium Batu Hitam yang dahulu kala jatuh dari langit (meteorit), demi sahnya Titel Haji yang mereka dambakan. Tidak mereka sadari bahwa cungkup Batu Hitam (berhwarna putih perak), sesungguhnya symbol kelamin wanita”, halaman 60. Dalam masalah melempar jumrah di halaman yang sama di tulis, “Di ‘sebelah sana’ mereka melempari ‘jumrah’, kea rah menara (yang mereka percaya sedang melempari jin). Padahal bagi para Antrhropoloq, menara itu adalah symbol kemaluan lelaki”.

Berbagai penghinaan terhadap Allah dan Rasul-Nya tersebut akhirnya memicu kemarahan kaum muslimin. Puncaknya, terjadinya kerusuhan Temanggung, 8 Pebruari 2011. Lagi-lagi umat Islam menjadi korban. Sementara persoalan pokoknya tidak didudukkan dengan baik. Hal ini sebagaimana diungkapkan FUIB (Forum Umat Islam Bersatu) dalam ‘Buku Putih’ menyikapi kerusuhan Temanggung. “Umat Islam Temanggung yang faktanya adalah sebagai KORBAN penistaan agama, justru menjadi pihak yang TERTUDUH”, demikian isi buku putih tersebut.

Lebih jauh disebutkan, Perbuatan Antonius Richmon Bawengan  sangat berbahaya dan mampu memecah belah sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. “Apa yang telah dilakukan oleh Antonius Richmon Bawengan adalah perbuatan yang sangat berbahaya, sangat potensial untuk memecah belah sendi-sendi kehidupan bermasyarakat bahkan bisa menyebabkan disintegrasi Negara Kesatuan republik Indonesia”.

Karena itu FUB Temanggung menuntut agar aktor intelektual di Balik perbuatan Antonius Richmon Bawengan di ungkap karena dikhawatirkan akan melakukan perbuatan serupa di daerah lain. “Forum Umat Islam Bersatu menuntut aparat keamanan untuk mengusut tuntas kelompok dan aktor intelektual di belakang Antonius Richmon Bawengan sebab keresahan massa dan provokasi yang memantik kerusuhan di Temanggung 8 February 2011 semuanya bermula dari kasus Antonius Richmon Bawengan. Bila kelompok dan aktor intelektual ini tidak disentuh, sangat patut kuat diduga akan melanjutkan aksi ke daerah-daerah lain”.

Kasus Penghinaan terhadap Islam di Temanggung bukan kasus pertama dan terakhir. Penghinaan dan pelecehan yang dilakukan orang kafir terhadap Islam terus terjadi. Selain sebagai tabi’at permusuhan, penghinaan yang semakin berani dan terang-terangan menunjukkan lemahnya kaum muslimin.

Dalam tahun 2010 lalu penghinaan terhadap Islam di Indonesia juga sering terjadi. Kasus yang cukup mencolok adalah kasus Bekasi. Seorang Kristen Radikal alumnus SMP Bellarminus di SMAN 5 Bekasi melakukan pelecehan terhadap Al-Qur’an dengan foto menginjak Al-Qur’an dan pose “Al-Qur’an Fuck You.” Belum usai kasus pelecehan Al-Qur’an di SMAN 5 Bekasi, muncul penodaan yang lebih dahsyat dalam ‘Blog Santo Bellarminus’ pada tanggal 21 April 2010 yang menamakan diri Gerakan Membasmi Islam (GMI). Dalam postingan berjudul “Habisi Islam di Indonesia,” ditulis berbagai hujatan terhadap Islam dengan mengejek Allah dan Rasulullah sebagai Homoseks (gay). Penodaan lainnya, Al-Qur’an dihujat sebagai kitab sesat dan kitab seksual, Islam dilecehkan sebagai agama setan dan lainnya.

Belum usai kasus penodaan SMAN 5 dan Blog Santo Bellarminus, muncul penodaan lain. Dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), umat Kristen melakukan pawai atas nama Badan Narkotika Kota (BNK) Bekasi. Dengan klaim telah mendapat izin dari Walikota Mochtar Mohammad, peserta pawai berkostum Kristiani memasuki pelataran Masjid Agung Bekasi. Mereka menari-nari dan membuat formasi Pedang Salib.

Di luar negeri, penghinaan terhadap Islam juga marak. Kasus yang cukup terkenal adalah penerbitan 12 karikatur Rasulullah oleh surat kabar Jyllands-Posten; 30 September 2005. Di Indonesia, ada dua media massa menerbitkan karikatur-karikatur tersebut yaitu Tabloid Gloria (5 karikatur) dan Tabloid PETA.  Selain penerbitan 12 karikatur tersebut, kasus penghinaan terhadap Islam yang mendapat reaksi keras adalah penyebaran film Fitna oleh Geert Wilders pada tanggal 27 Maret 2008 di Belanda. Keduanya sama-sama menggambarkan kekejaman Islam dan ketakutan barat akan kehadiran Islam.

Pertanyaannya, mengapa mereka semakin berani menghina Islam, apalagi di negara yang mayoritas umat Islam?. Jawabnya; karena umat Islam lemah. Tidak bangga dengan Islam dan hilangnya harga diri. Yang terjadi musuh semakin leluasa untuk menghinakannya.

Maka, kaum muslimin layak memperhatikan ungkapan Rasulullah, ‘Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi dan Abu Dawud).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: