Skip navigation


 

Oleh : Ustadz Nabiel Fuad Al-Musawa

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا
لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3)
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ
أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al Quran) itu pada malam
kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu
lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan
malaikat Jibril dengan izin RABB-nya untuk mengatur segala urusan.
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

1. Menghidupkan malam Laylatul Qadar adalah bukti keimanan seseorang :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَقُمْ
لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ
ذَنْبِهِ

Dari Abu Hurairah ra, bersabda Nabi SAW : “Barangsiapa menghidupkan malam Laylatul Qadar dengan iman dan mengharap ridho ALLAH SWT maka diampuni dosanya yang terdahulu.” (HR Bukhari, I/61, hadits no. 34)

2. Menggapai Laylatul Qadar hendaklah dalam keadaan berpuasa :

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ
لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ
ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abu Hurairah ra Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa menghidupkan malam Laylatul Qadar dengan iman dan mengharap ridho ALLAH SWT maka diampuni dosanya yang terdahulu, dan barangsiapa berpuasa Ramadhan dlm Iman dan mengharap ridho ALLAH SWT maka akan diampuni dosanya yg telah lalu.”
(HR Bukhari, VI/468, hadits no. 1768)

3. Mencari Laylatul Qadar itu pd 10 malam yg terakhir :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُجَاوِرُ فِي
الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَيَقُولُ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ
الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Dari Aisyah ra berkata : “Adalah Nabi SAW biasa mencari Laylatul Qadar pada 10 malam yang terakhir.” (HR Bukhari, VII/147, hadits no. 1880)

4. Mencari Laylatul Qadar itu pd 10 terakhir tsb, terutama pada malam-malam Witirnya :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ
رَمَضَانَ

Dari Aisyah ra : “Adalah Nabi SAW mencari Laylatul Qadar pd malam-malam witir di 10 hari terakhir.” (HR Bukhari, VII/145, hadits no. 1878)

5. Hadits paling seringnya tentang Laylatul Qadar adalah tgl 27 tapi terjadi juga tanggal 23-nya :

أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا وَأَرَانِي صُبْحَهَا
أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ قَالَ فَمُطِرْنَا لَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ
فَصَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَانْصَرَفَ وَإِنَّ أَثَرَ الْمَاءِ وَالطِّينِ عَلَى جَبْهَتِهِ وَأَنْفِه .
قَالَ وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُنَيْسٍ يَقُولُ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ

Dari AbduLLAAH bin Unais ra, bersabda Nabi SAW : “Aku melihat Laylatul Qadar lalu aku dibuat lupa waktunya, dan ditampakkan padaku saat Shubuhnya aku sujud di tanah yg basah, lalu kata AbduLLAAH : Maka turun hujan atas kami pd malam 23, maka Nabi SAW shalat Shubuh bersama kami, lalu beliau SAW pulang dan nampak bekas air dan tanah di dahi dan hidung beliau SAW, lalu dikatakan :Maka AbduLLAAH bin Unais berkata tanggal 23 itulah Laylatul Qadar.” (HR Muslim, VI/80, hadits no. 1997)

6. Laylatul Qadar itu bisa didapati dlm keadaan jaga maupun juga dalam mimpi yg benar :

أَنَّ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَى
رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ
مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

Dari Ibnu Umar ra : “Ada beberapa orang laki2 sahabat Nabi SAW yg bermimpi melihat Laylatul Qadar pd 7 malam terakhir, maka sabda Nabi SAW : Aku juga melihat apa yg kalian mimpikan itu jatuhnya pd 7 malam terakhir, maka barangsiapa yg ingin mencarinya maka carilah pd 7 malam terakhir tsb.” (HR Bukhari, VII/142, hadits no. 1876)

7. Laylatul Qadar itu tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak ada angin, tidak hujan :

ليلة القدر ليلة بلجة لا حارة و لا باردة ( و لا سحاب فيها و لا مطر و لا
ريح ) و لا يرمى فيها بنجم و من علامة يومها تطلع الشمس لا شعاع لها

“Pada malam Laylatul Qadar itu tidak panas & tidak dingin, tidak berawan dan tidak hujan dan tidak berangin, tidak juga terang dg bintang2, tanda di pagi harinya adalah Matahari terbit bercahaya lembut.” (HR As-Suyuthi dlm Jami’ Shaghir, di-shahih-kan oleh Albani dlm Shahihul Jami’, XX/175, no. 9603)

8. Tapi kadang2 Laylatul Qadar itu disertai juga dengan hujan :

وَقَالَ إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا أَوْ
نُسِّيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي الْوَتْرِ
وَإِنِّي رَأَيْتُ أَنِّي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ فَمَنْ كَانَ اعْتَكَفَ
مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلْيَرْجِعْ
فَرَجَعْنَا وَمَا نَرَى فِي السَّمَاءِ قَزَعَةً فَجَاءَتْ سَحَابَةٌ
فَمَطَرَتْ حَتَّى سَالَ سَقْفُ الْمَسْجِدِ وَكَانَ مِنْ جَرِيدِ النَّخْلِ
وَأُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَسْجُدُ فِي الْمَاءِ وَالطِّينِ حَتَّى رَأَيْتُ أَثَرَ الطِّينِ
فِي جَبْهَتِهِ

Dari Abu Said Al-Khudriy ra, bersabda Nabi SAW : “… Aku melihat Laylatul Qadar lalu aku dibuat lupa kapan waktunya, maka barangsiapa yg ingin mencarinya maka carilah pd 10 hari terakhir pada malam2 witirnya dan aku melihat diriku pd malam tsb sujud di atas tanah yg basah… Maka kami kembali dan kami tidak melihat ada awan di langit, maka tiba2 ada awan dan turun hujan sampai airnya menembus sela2 atap masjid yg terbuat dari pelepah Kurma, maka aku melihat Nabi SAW sujud di atas tanah yg basah, sampai kulihat bekas tanah yg basah itu di dahi beliau SAW.” (HR Bukhari, VII/174, hadits no. 1895)

9. Pagi hari setelah Laylatul Qadar cahaya Matahari putih tapi tidak silau :

فَقَالَ أُبَيٌّ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِنَّهَا لَفِي
رَمَضَانَ يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِي وَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ
لَيْلَةٍ هِيَ

هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ
وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا
بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا

Berkata Ubay bin Ka’ab ra : “Demi ALLAH yg Tiada Ilah kecuali DIA, sungguh malam tsb ada di bulan Ramadhan, aku berani bersumpah ttg itu dan demi ALLAH aku tahu kapan malam itu, yaitu malam yg kita diperintah Nabi SAW untuk menghidupkannya yaitu malam 27 dan tanda2 nya adalah Matahari bersinar di pagi harinya dengan cahaya putih tapi tidak menyilaukan.”
(HR Muslim, IV/150, hadits no. 1272)

10. Laylatul Qadar hanya bermanfaat bagi orang yg Iman & Mengharap Ridho ALLAH SWT :

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ يَقُمْ
لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَيُوَافِقُهَا أُرَاهُ قَالَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا
غُفِرَ لَهُ

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa yg bangun saat Laylatul Qadar lalu pas melihatnya, lalu sabda Nabi SAW : Dan orang tsb beriman dan mengharap ridho ALLAH SWT maka diampuni dosanya yg telah lalu.” (HR Muslim, IV/147, hadits no. 1269)

11. Saat Laylatul Qadar Malaikat yg turun ke bumi lebih banyak dari Kerikil :

ليلة القدر ليلة سابعة أو تاسعة و عشرين ، إن الملائكة تلك الليلة في
الأرض أكثر من عدد الحصى

Bersabda Nabi SAW : “Laylatul Qadar itu pada malam 27 atau 29, sungguh malaikat yg turun pd saat itu ke bumi lebih banyak dari jumlah batu kerikil.” (HR Thayalisi dlm Musnad-nya no. 2545; juga Ahmad II/519; dan Ibnu Khuzaimah dlm shahih-nya II/223)

12. Apakah doa yg paling baik dibaca saat Laylatul Qadar?

وعن عائشة رضي الله عنها قالت : قلت : يا رسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة
القدر ما أقول فيها ؟ قال : ” قولي : اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Dari Aisyah ra : Wahai RasuluLLAAH, menurut pendapatmu jika aku tahu bhw malam terjadinya Laylatul Qadar, maka doa apa yg paling baik kuucapkan? Sabda Nabi SAW : “Ucapkanlah olehmu, Ya ALLAH sesungguhnya ENGKAU adalah Maha Pemaaf, mencintai orang yg suka memaafkan, maka maafkanlah aku.” (HR Ahmad, Ibnu Majah & Tirmidzi, di-shahih-kan oleh Albani dlm Al-Misykah, I/473 no. 2091)

# Artikel Kajian I’tikaf 26 Ramadhan 1431H, Masjid Al-Hikmah Jl. Bangka 2 Mampang Jak-Sel Indonesia #

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: