Skip navigation


Tetap berjalan, iringi hidup tapaki waktu yang tidak berulang. Dapati sketsa hari – hari yang telah menitipkan banyak warna. Inilah detak jantung trotoar yang makin hari makin mengganas mengawal aspal peradaban dan angkuhnya cengkeraman metropolis, menjalar membakar karakter urban, yang hari ini sebagian dari masih terus bertahan dalam pertempuran 24 jam nonstop, karena di dalam tidurpun kami harus selalu siaga atas lelahnya reduksi pikiran yang beriak, setelah hari hari membunuh daki dan debu debu berhimpitan dalam cakrawala harapan, cita – cita, realitas dan stagnasi.

Ini adalah resistensi, terhadap diri sendiri, dirimu, kalian, mereka, engkau, dia dan semua yang coba berkata dalam baris baris bibir tentang ‘kebenaran’ dan kemungkinan lainnya. Ketika dialektika hanya sebuah tarian basah dari teknik balet bernama retorika dengan guru ketaklitan entah itu mau pakai label ulama, agama atau atheis sekalipun.

Lelucon para perangsang wahyu dan dialektika, yang kebanyakan justru begumam dari kepastian sebuah ketidakpastian yang mereka pastikan atas dasar yang sebenarnya secara tidak sadar ada kepastian yang menjadi tidak pasti, karena dunia ternyata terlalu pasti untuk terbiasa melambai dusta dalam paralel sejarah, tradisi, hegemoni dan doktrin mati dogmatisasi, yang ujung dari tarian itu lebih banyak hanya melahirkan justifikasi dan tebang pilih. Semoga hari ini saya tidak benar – benar menemukan Karl Marx berkolaborasi dengan fatwa MUI.

Maka saya bersyukur pada ignorance, ketika knowledge adalah hegemoni ID Palsu dan secawan propaganda yang membuat saya makin bersyukur bisa membunuh karl marx dan tuhan secara bersamaan. karena proletar adalah kapitalis adalah konspirasi adalah kepalsuan adalah politisasi ideologi yang jauh lebih busuk dari euforia dominasi game poker di facebook saat ini.

Ketika segelintir patriot membabi buta, mereduksi konsep baik dengan label dialektika atau manifesto. Maka air mani itu justru lebih berharga, karena dari situ saya bisa belajar siapa saya dan kemana saya pergi. Dan dari situ saya mengerti alasan saya berdiri baik secara fisik, ideologi ataupun iman.

Urbanisasi semangat dan daya tahan terhadap hidup, maka ini memang resistensi dari kolong langit kaum urban. sejajar menjalar arti langkah jalan menuju manifestasi jati diri yang final. Dan karena itulah..kami tidak perlu lagi menjadi dungu seperti Wiro Sableng dan Sinto Gendeng dengan ribuan jurus perubah pemikiran diatas panggung kusir delman dan pesanan jamaah juga ketaklitan massal dari patriot egosentris entah dengan atau tanpa label administrasi golongan.

Kebenaran bagi kami sudah final, kebenaran yang membuat kami malas pergi sholat tarawih, kebenaran yang membuat kami menelanjangi bahkan mengazab semunya dongeng kuburan meledug dan lelucon mayat belatungan. Kebenaran yang membuat kami menutup pintu rumah kami ketika kalian bicara tentang kemenangan kebenaran diatas dukungan sebanyak-banyaknya, sejak voting dan hak pilih adalah keharaman karena itulah lebih masa bodoh lagi bagi kami untuk mencari dukungan sebanyak banyaknya demi kebenaran ini, maka saya terlalu yakin karl marx dan adam smithpun paham, tidak mungkin amerika menjadi begundal demokrasi dengan slogan patriotisme ala Che Guevara dan Stalin dari kacamata Gatotkaca dan kentut semar. Percayalah! Kuku Bima hanya bisa kamu temukan di warung kopi jahe dan jamu tradisional!

Dan hari ini, kami semakin mampu mereduksi hari, memaknai hidup untuk mengerti keterasingan itu anugerah. Karena kemuliaan itu sejatinya datang dalam keadaan asing dan pergi juga dalam keadaan yang asing. Tidak perlu banyak berpikir bagaimana kalian akan meninggalkan kami, atau justru kalian berpikir bagaimana cara merekrut kami. Karena sejatinya kami sudah meninggalkan kalian, jauh dan makin jauh dan akan semakin jauh. Menjadi ‘bodoh’ adalah lebih baik bagi kami, daripada menjadi ‘pintar’ dengan bergumam atas sambilan resistensi ujung aspal, ah Iwan Fals justru melakukan itu jauh lebih baik dengan atau tanpa Setiawan Djody di sana.

Inilah anugerah, karena kebenaran yang benar adalah kamu belajar dari ketidakbenaran untuk mengerti bahwa itu tidak benar. Hingga kamu akan melihat dan merasakan nikmatnya hidup dengan kebenaran sejati itu karena kamu mengimaninya dengan penjelasan sejelas jelasnya nasehat dari guru terbesar itu yaitu pengelaman hidupmu. Karena jika ‘itu’ benar..maka ia berkata dan melakukan, seperti ia melakukan apa yang ia katakan, dan yang benar itu juga tidak perlu dukungan dan tidak mengemis untuk diterima. Ia tetap benar dengan atau tanpa dukungan siapapun..maka hiduplah dan maknailah hidup, dan rasakanlah indahnya hidup dengan menjadikan dirimu tuhan dan berjalan bersama Kekuatan yang menciptakan semua tuhan dimuka bumi ini!

Makan tuh ‘kebenaran’!

Di Tulis Dengan Penuh Senyum Oleh : Thufail Al Ghifari

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: