Lewati navigasi

Arsip Kategori: RAMADHAN 1430 Hijriah

ku mengharapkan Ramadhan kali ini penuh makna …

Lailatul Qadar2

Tausyiah
Menggapai Keutamaan Lailatul Qadar

Ikhwati fillah, tiada terasa kita segera memasuki sepertiga bagian dari bulan yang kita cintai, bulan Ramadhan Mubarak. Detik-detik waktu serasa berlalu begitu cepat, sedangkan langkah kita pun masih tertatih-tatih untuk menyempurnakan rasa syukur kita bertemu dengan bulan yang mulia ini. Rasanya seperti baru kemarin saja kita memulai puasa di hari pertama, namun kini kita hendak berpisah dengannya dalam beberapa hari ke depan. Tentu hal ini seharusnya memperkuat azzam yang ada di dalam diri untuk lebih memperbaiki kualitas ibadah kita secara total di sepuluh hari yang terakhir, insya Allah.

Di antara amalan utama di sepuluh hari terakhir yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Muhammad SAW ialah pelaksanaan ibadah I’tikaf di masjid. I’tikaf secara harfiah bermakna tinggal di suatu tempat untuk melakukan sesuatu yang baik. Sehingga makna dari I’tikaf adalah tinggal atau menetap di dalam masjid dengan niat beribadah guna mendekatkan diri kepada Allah Swt. Di dalam Al-Qur’an sendiri terdapat penggunaan kata I’tikaf yang termaktub pada firman Allah Swt : Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu berI’tikaf di dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat ayat-Nya kepada manusia supaya mereka berTaqwa (QS 2:187).

Bagi seorang muslim yang hendak mencari predikat Muttaqin seiring dengan berlalunya bulan Ramadhan ini, maka ibadah I’tikaf ini merupakan sarana penting dalam mencapai kesempurnaan ibadah di bulan Ramadhan. I’tikaf sekaligus merupakan sarana muhasabah dan kontemplasi yang efektif bagi muslim dalam memelihara dan meningkatkan kualitas keIslamannya.

Para ulama telah berijma’ bahwa I’tikaf, khususnya 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan merupakan suatu ibadah yang disyariatkan dan disunnahkan. Rasulullah SAW sendiri senantiasa berI’tikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari. Aisyah, Ibnu Umar dan Anas ra meriwayatkan : Rasulullah SAW selalu berI’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan (HR. Bukhori dan Muslim)

Hal ini dilakukan oleh beliau hingga wafat, bahkan pada tahun wafatnya beliau berI’tikaf selama 20 hari. Demikian pula halnya dengan para shahabat dan istri Rasulullah Saw senantiasa melaksanakan ibadah yang amat agung ini. Imam Ahmad berkata : Sepengetahuan saya tidak ada seorangpun dari ulama yang mengatakan bahwa I’tikaf itu bukan sunnah.

Abu Daud pernah bertanya kepada Imam Ahmad : Tahukah anda hadits yang menunjukkan keutamaan I’tikaf ? Ahmad menjawab: tidak, kecuali hadits yang lemah. Namun demikian tidaklah mengurangi nilai ibadah I’tikaf itu sendiri sebagai taqorrub kepada Allah SWT. Dan cukuplah keutamaannya bahwa Rasulullah, para Shahabat, para Istri Rasulullah SAW dan para ulama salafusholeh senantiasa melakukan ibadah ini.

Ibnu Qoyyim berkata : I’tikaf disyariatkan dengan tujuan agar hati berI’tikaf dan bersimpuh dihadapan Allah, berkhalwat denganNya, serta memutuskan hubungan sementara dengan sesama makhluk dan berkonsentrasi sepenuhnya kepada Allah.

Salah satu urgensi kita melakukan ibadah I’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan, adalah karena pada rentang waktu tersebut, Allah SWT telah menyediakan satu malam yang mulia yaitu Lailatul Qadar (malam kemuliaan).

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ(1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ(2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ(3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ(4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ(5)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) saat Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala uuusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (Al-Qadr: 1-5)

Allah telah menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh keberkahan. Allah Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi.” (Ad-Dukhaan:3) Dan malam itu berada di bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah Ta’ala : “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an. “(Al-Baqarah: 185).

Ibnu Abbas radhiallahu’anhu berkata : “Allah menurunkan Al-Qur’anul Karim keseluruhannya secara sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah (langit pertama) pada malam Lailatul Qadar. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan konteks berbagai peristiwa selama 23 tahun.”
Malam itu dinamakan Lailatul Qadar dikarenakan keagungan nilainya dan keutamaannya di sisi Allah Ta’ala dan pada saat itu pula ditentukan ajal, rizki, dan lainnya selama satu tahun, sebagaimana firman Allah: “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad-Dukhaan: 4).

Kemudian, Allah berfirman mengagungkan kedudukan Lailatul Qadar yang Dia khususkan untuk menurunkan Al-Qur’anul Karim : “Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu?” Selanjutnya Allah menjelaskan nilai keutamaan Lailatul Qadar dengan firman-Nya : “Lailatul Qadar itu lebih baik dari pada seribu bulan.” Sehingga beribadah di malam itu dengan ketaatan, shalat, tilawah, dzikir, do’a dsb sama dengan beribadah selama seribu bulan di waktu-waktu lain atau sama dengan 83 tahun 4 bulan.

Lalu Allah memberitahukan keutamaannya yang lain, juga berkahnya yang melimpah dengan banyaknya malaikat yang turun di malam itu, termasuk Jibril ‘alaihis salam. Mereka turun dengan membawa semua perkara, kebaikan maupun keburukan yang merupakan ketentuan dan takdir Allah. Mereka turun dengan perintah dari Allah. Selanjutnya, Allah menambahkan keutamaan malam tersebut dengan firman-Nya : “Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar” (Al-Qadar: 5)

Maksudnya, malam itu adalah malam keselamatan dan kebaikan seluruhnya, tak sedikit pun ada kejelekan di dalamnya, sampai terbit fajar. Di malam itu, para malaikat -termasuk malaikat Jibril- mengucapkan salam kepada orang-orang beriman. Dalam satu hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan keutamaan melakukan qiyamul lail di malam tersebut. Beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih)

Tentang waktunya, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya).
Yang dimaksud dengan malam-malam ganjil yaitu malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dan malam dua puluh sembilan.

Disunnahkan bagi orang yang berI’tikaf untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar untuk menghidupkan malam dengan memperbanyak ibadah dan taqarrub kepada Allah SWT, seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat kepada Nabi Saw, do’a dan sebagainya. Namun demikian yang menjadi prioritas utama adalah ibadah, ibadah mahdhah. Bahkan sebagian ulama seperti Imam Malik, meninggalkan segala aktivitas ilmiah lainnya dan berkosentrasi penuh pada ibadah, ibadah mahdhah.

Adalah suatu kewajiban bagi kita untuk berlomba-lomba mencari keutamaan Lailatul Qadar di sepertiga terakhir bulan Ramadhan ini dengan niat yang ikhlas, dan hati yang bersih. Sehingga keluar di bulan Ramadhan sebagai pribadi-pribadi yang Muttaqin, yang siap beramal ibadah dengan kualitas Ramadhan di 11 bulan berikutnya. Amin.
Wallahu’alam bishshowab

 

cover-quran

Ditulis oleh Muladi Mughni, Lc. 

 

Refleksi Peringatan Nuzulul Qur’an

Pada malam hari di bulan ramadhan yang mulia ini, kita tengah memperingati malam Nuzulul Qur’an. Di mana “mayoritas” ulama berpendapat bahwa saat diturunkannya wahyu pertama Al-Quran yaitu terjadi pada bulan suci ramadhan. Hal ini juga diperkuat dengan firman Allah swt dalam surat Al-Qadr (1-5).

Sekalipun mayoritas ulama berpendapat turunnya Al-Qur’an terjadi pada bulan suci Ramadhan, namun hal ini tidak menyampingkan adanya perbedaan pendapat seputar tanggal atau waktu turunnya Al-Qur’an tersebut. Ada di antara sahabat Nabi dan ulama yang meriwayatkan bahwa Nuzulul Qur’an terjadi pada tanggal 17 Ramadhan, ada pula yang mengatakan 21, dan adapula yang berpendapat tanggal 23, 24 dan seterusnya. Kenapa terjadi perbedaan di antara para sahabat tentang persisnya tanggal Nuzulul Qur’an tersebut. Hal ini dapat dijawab, bahwa memang tidak ada keterangan resmi yang datang dari baginda Rasulullah saw mengenai kapan tepatnya tanggal diturunkannya Al-Qur’an tersebut. Sehingga semua perkataan dan pendapat yang sempat ditulis oleh ulama adalah murni hasil Ijtihad dan pendapat para sahabat belaka. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari menuliskan, bahwa terdapat kurang lebih 40 pendapat ulama seputar kapan Nuzulul Qur’an tersebut.

Dalam sebuah riwayat, pernah dinyatakan bahwa baginda Rasulullah saw hendak menyampaikan berita gembira tentang kapankah tepatnya malam Nuzulul Qur’an atau Lailatul Qadr tersebut. Namun ketika beliau hendak menyampaikan berita tadi, tiba-tiba terdapat dua orang sahabat yang tengah bertengkar sengit di dalam masjid Nabi, maka melihat kejadian tersebut maka Rasulullah saw enggan menyampaikan kabar berita tersebut, atau tepatnya keinginan untuk menyampaikan itu tiba-tiba sirna ketika melihat kejadian tersebut. 

Namun demikian, sesungguhnya dengan tidak jadinya Rasulullah saw mengabarkan berita di atas, terdapat hikmah yang luar biasa bagi ummat seluruhnya; yaitu, agar kita senantiasa bersungguh-sungguh mencari kapan tepatnya malam tersebut tiba. Dengan tidak adanya kabar yang pasti tentang malam Nuzulul Qur’an ini, seharusnya membuat kita tidak bermalas-malas dalam mencari anugerah malam tersebut. Justru dikhawatirkan jika kita telah mengetahui pasti waktu malam Nuzulul Qur’an tersebut, malah kita hanya akan mengandalkan hari itu saja untuk beribadah kepada Allah, sementara pada waktu-waktu lainnya kita tinggalkan tanpa nilai ibadah sedikitpun. Tentu hal ini amat sangat bertolak belakang dengan semangat Ramadhan yang merupakan bulan yang tidak hanya menuntut keimanan kita, namun juga keihlasan hati kita untuk beribadah selama satu bulan penuh, atau dalam bahasa agamanya biasa kita kenal dengan istilah “Al-Iman Wa Al-Ihtisab.”

Lalu bagaimana sejarahnya, kenapa kita dan khususnya masyarakat Muslim Indonesia memperingati Nuzulul Qur’an ini pada tanggal 17 Ramadhan seperti saat sekarang.? Ternyata jika kita membaca sejarah bangsa kita, peringatan Nuzulul Qur’an yang jatuh pada tanggal 17 Ramadhan ini tidak lepas dari gagasan H. Agus salim dan persetujuan Bung Karno (Presiden RI pertama). Seperti yang kita maklum bahwa bangsa kita mendeklarasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Maka sebagai rasa syukur yang tiada terhingga atas nikmat kemerdekaan ini pula, maka perayaan Nuzulul Qur’an disamakan tanggalnya yaitu sama-sama mengambil angka 17 bulan ramadhan. Seakan-akan para fouding fathers kita hendak mengatakan bahwa, mensyukuri nikmat kemerdekaan, tidak kalah dengan mensyukuri nikmat turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman ummat Islam. Maka mulai saat itu -di zaman Bung Karno- sampai sekarang peringatan Nuzulul Qur’an senantiasa diperingati di istana Negara pada tanggal 17 ramadhan dan kerap diikuti oleh sebagian besar ummat muslim di Indonesia. Untuk lebih detailnya silakan dilihat sebuah buku “Bung Karno dan Wacana Islam” (Kenangan 100 Tahun Bung Karno)

***

Sebetulnya jika kita telusuri keterangan yang berasal dari Hadits Nabi Muhammad saw, bulan suci Ramadhan ini tidak hanya dikhususkan bagi turunnya Al-Qur’an saja. Namun juga bagi kitab-kitab ummat yang terdahulu, seperti, Injil, Taurat, Zabur dan  Shuhuf Ibrahim as, seluruhnya Allah turunkan di bulan suci Ramadhan ini. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ra :

    “ Shuhuf Ibrahim as diturunkan pada awal bulan Ramadhan, kemudian Taurat pada hari ke-7 bulan Ramadhan, lalu Injil pada hari ke-13 Ramadhan, sedangkan Al-Qur’an pada hari ke-25 bulan Ramadhan.”

Sekalipun seluruh kitab-kita samawi itu sama-sama diturunkan pada bulan suci Ramadhan, namun terdapat beberapa kelebihan Al-Qur’an di banding kitab-kitab yang lainnya. Paling tidak kelebihan tersebut dapat dilihat dalam beberapa hal :

1.    Bahwa seluruh kitab-kitab samawi Allah turunkan secara sekaligus, sedangkan Al-Qur’an Allah turunkan secara berangsur-angsur.
2.    Seruan atau petunjuk yang terdapat dalam kitab-kitab samawi terbatas pada ummat saat kitab tersebut diturunkan, sedangkan Al-Qur’an petunjuk dan seruannya tidak terbatas pada saat Al-Qur’an itu diturunkan, namun mencakup seluruh manusia sampai dengan hari Kiamat, bahkan termasuk juga bangsa Jin.
3.    Seluruh kitab-kitab samawi tersebut mengalami pemalsuan, distorsi, bahkan hilang sama sekali dari muka dunia, sampai-sampai sekarang kita tidak dapat melihat wujud aslinya, sedangkan Al-Qur’an terjaga dari segala bentuk pemalsuan dan penyelewengan seperti di atas.

Terdapat suatu riwayat menerangkan (baca: kitab Muwafaqat, Imam Syatibi, Kitab Maqasid. H. 42), kenapa kitab-kitab samawi mengalami penyelewengan atau pemalsuan sedangkan Al-Qur’an terjaga dari semua hal itu. Maka dijawab oleh Qadhi Abu Ishaq Ismail bin Ishaq, bahwa berkenaan dengan kitab-kitab terdahulu kenapa sempat terjadi pemalsuan dan penyelewengan, hal itu karena Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Sebagaimana Allah memerintahkan mereka untuk menjaga Kitab Allah (Al-Maidah: 44). Ayat ini mengandung pengertian bahwa, keutuhan dan keotentikan kitab suci mereka “murni” tergantung pada usaha mereka untuk menjaganya. Sedangkan pada Al-Qur’an Allah tidak berkata demikian, akan tetapi “ Sesungguhnya Kami telah turunkan Al-Qur’an dan Kami pula yang akan menjaganya” (al-Hijr: 9). Artinya, keutuhan dan keotentikan Al-Qur’an tidak semata-mata murni usaha manusia atau ummat Muslim saja, namun juga terdapat interfensi Allah Swt atasnya. Maka sangat wajar, jika sesuatu yang dilandaskan pada kekuatan yang berasal dari Allah sendiri, akan berbeda dengan kekuatan yang hanya berasal dari manusia saja.
4. Kelebihan “surat” Al-Quran atas “surat-surat” kitab terdahulu. Para ulama tafsir berkata: “Al-Quran lebih unggul dari kitab-kitab samawi lainnya sekalipun semuanya turun dari Allah, dengan beberapa hal, diantaranya : jumlah suratnya lebih banyak dari yang ada pada semua kitab-kitab yang lain. Telah disebutkan dalam sebuah hadis bahwa Nabi kita Muhammad saw. diberi kekhususan dengan surat Al-Faatihah dan penutup surat Al-Baqarah. Di dalam Musnad Ad Darimi disebutkan, dari Abdullah bin Mas’ud ra. ia berkata: “Sesungguhnya Assab’uthiwal (Tujuh surat panjang dalam Alquran; Al-Baqarah, Ali-Imran, An-Nisaa,, Al-A’raaf, Al-An’aam, Al-Maa-idah dan Yunus) sama seperti taurat, Al-Mi’in (Surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat lebih, seperti Hud, Yusuf, Mu’min dan lain sebagainya) sama seperti Zabur dan Al-Matsani (Surat-surat yang berisi kurang dari seratus ayat. Seperti, Al-Anfaal, Al-Hijr dan lain sebagainya) sama dengan kitab Injil. Dan sisanya merupakan tambahan”.
Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan Thabrani, dari Wasilah bin Al-Asqa, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Telah diturunkan kepadaku Assab’uthiwal sebagai ganti yang ada pada Taurat. Diturunkan kepadaku Al Mi’in sebagai ganti yang ada pada Zabur. Diturunkan kepadaku Al Matsani sebagai ganti yang ada pada Injil, dan aku diberi tambahan dengan Al Mufashshal (surat-surat pendek).

***

Sebagaimana tema kita yaitu, apa urgensi al-Qur’an dalam Kehidupan Muslim. Namun sebelumnya perlu saya sampaikan bahwa sekalipun isi Al-Qur’an banyak menceritakan tentang kisah-kisah ummat terdahulu, akan tetapi Al-Qur’an bukanlah kitab sejarah, atau sekalipun Al-Qur’an sering menggambarkan alam kosmos beserta galaksinya, akan tetapi Al-Quran tidak dapat kita sebut sebagai kitab astronomi. Atau sekalipun al-Quran sering mengupas tentang bentuk penciptaan manusia secara detail dan juga penciptaan alam raya ini, akan tetapi Al-Qur’an bukanlah kitab pengetahuan Alam atau fisika. Melainkan  yang tepat adalah Al-Quran sebagai kitab hidayah atau petunjuk bagi seluruh alam. Jadi sekiranya terdapat cerita atau gambaran tentang hal-hal yang bertalian dengan geografi, sejarah, fisika, kedokteran dan lain-lain, hal tersebut hanyalah berfungsi sebagai bukti dan penjelasan untuk mencapai kepada satu tujuan hidayah yang Allah maksud tadi. Maka dari itu, terdapat beberapa syarat agar kita dapat menemukan hidayat yang dimaksud oleh Allah swt dalam kandungan yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Yang pertama : Kita harus terlebih dahulu membaca Al-Quran tersebut secara seksama, hal ini sebagaimana pesan wahyu pertama dalam surat al-Alaq, yang berbunyi (Iqra’) atau bacalah.!  

Yang kedua : Kita harus memahami isi dan kandungan yang terdapat dalam surat dan ayat yang kita baca tadi.  Hal ini disebabkan membaca saja tidak cukup untuk mengetahui rahasia kandungan dan maksud yang Allah maksud dalam Al-Qur’an tersebut.

Yang ketiga : Setelah kita memahami isi dan kandungan Al-Qur’an barulah kita mengajarkan kepada orang lain, agar orang lain pun dapat membaca dan memahami Al-Quran secara baik.  Sebagaimana hadits Nabi saw yang diriwatkan oleh Usman bin Affan ra. dari Nabi saw. ia bersabda ;  ”Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain”.(Bukhari). Al hafiz Ibnu Katsir dalam kitabnya Fadhail Quran halaman 126-127 berkata: Maksud dari sabda Rasulullah saw. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkan kepada orang lain” adalah, bahwa ini sifat-sifat orang-orang mukmin yang mengikuti dan meneladani para Rasul. Mereka telah menyempurnakan diri sendiri dan menyempurnakan orang lain. Hal itu merupakan gabungan antara manfaat yang terbatas untuk diri mereka dan yang menular kepada orang lain.

Yang keempat : Mengamalkan ajaran dan kandungan yang terdapat dalam Al-Qur’an. Pada tahap pengamalan inilah yang sangat berat, sebab pengetahuan yang didapat akan tidak berguna jika tidak dibarengi dengan pengamalan dalam prilaku dan perangai kita setiap harinya.

***

Dari keempat syarat ini barulah Al-Qur’an akan dapat dirasakan manfaatnya oleh kita semua, oleh sebab Al-Quran merupakan kitab petunjuk/hidayah. Apalagi jika kita benturkan  dengan kebutuhan hidup saat ini. Di mana setiap orang dengan segala kemajuan dan kecanggihan yang dicapai oleh manusia, justru malah mereka mencari suatu sistem nilai yang mereka anggap absolut. Kita sebagai ummat Islam tentu tidak perlu lagi meragukan apalagi mencari-cari sistem nilai lagi kecuali pada Al-Qur’an itu sendiri. Perlu dicatat bahwa kemunduran ummat Islam bukan terletak pada inti ajaran Al-Qur’an atau disebabkan ummat Islam setia pada ajaran Al-Qur’annya, sehingga  alam pikir dan daya kreatifitas mereka terhambat oleh al-Qur’an, akan tetapi justru dikarenakan faktor budaya dan ummat Islam malah sedikit demi sedikit telah menjauhkan dari Al-Qur’an.

Satu contoh, sangat ironis memang, di saat ajaran Al-Quran menganjurkan kepada ummatnya untuk membaca, namun kenyataannya Negara dan ummat yang terbesar buta hurufnya justru adalah ummat Islam. Dapat kita lihat pula, terkait dengan minat baca umat Islam Indonesia, dan orang Indonesia secara umum sangatlah lemah. Namun sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia, adalah ironis bahwa Muslim Indonesia belum mampu menerjemahkan wahyu pertama dalam kehidupan sehari-hari. Di belahan lain dunia Islam, kondisinya lebih baik. Di India dan Iran misalnya. Di kedua negara tersebut tradisi keilmuan yang memang telah lama mengakar terus lestari hingga kini. Dalam sejarahnya, bangsa Indonesia tidak memiliki satu peradaban dengan tradisi baca-tulis (baca: keilmuan) yang kuat. Dibutuhkan lebih dari sekedar kerja keras untuk menggapai hal itu. Nuzulul Quran bisa menjadi jawaban untuk semua itu. Dengan merujuk pada Al-Quran, adalah sahih untuk mengatakan bahwa menjadi seorang Muslim yang baik adalah menjadi pembaca yang baik. Semoga momentum Nuzulul Quran rasanya layak dijadikan pijakan awal transformasi budaya untuk lebih bersahabat dengan bacaan dan tulisan.

***

Sebagaimana yang telah kita singgung bahwa Surat Al-‘Alaq ayat 1-5 adalah wahyu verbal pertama yang diterima Nabi saw. Dalam kisah pewahyuan ayat-ayat ini, Nabi dikisahkan ‘dipaksa’ oleh malaikat Jibril untuk membaca (iqra’/bacalah!). Tapi saat itu Nabi merespon dengan menjawab “Saya bukanlah seorang yang bisa membaca”. Ada sebuah analisis menarik dari Dr. Tariq Ramadhan tentang peristiwa ini. Dia menulis bahwa karena Nabi adalah seorang ummi saat itu Nabi “mengungkapkan ketidakmampuan logis dan bila kemudian Nabi mampu membaca hal itu karena spiritualitas yang terkandung di dalam kalimat—‘dengan nama Tuhanmu’—membuka akses terhadap dimensi lain ilmu pengetahuan”.

Setidaknya ada beberapa hal yang menarik untuk dibicarakan. Pertama adalah bahwa Nabi saw., seorang ummi—tentang hal ini ada hikmah tersendiri dalam ayat lain—‘dipaksa’ untuk membaca. Hal ini memberikan impresi betapa Islam menekankan pentingnya membaca hingga dipilih seorang ummi, yang dipaksa untuk membaca, untuk menyampaikan pesan-pesannya. Kedua, keharusan untuk menyertakan spiritualitas dan keimanan dalam aktifitas pembacaan itu. Tentu hal itu tidak berarti meminggirkan peran nalar dalam proses pembacaan. Sebaliknya, rasionalitas (baca: ta’aqqul, tadabbur) adalah komponen utama dalam proses memahami dan menafsirkan ‘bacaan’, namun hal ini tidak boleh meminggirkan keimanan dan spiritualitas dalam prosesnya.

Selanjutnya, dalam analisis semantik bahasa Arab , pembuangan objek dari kata iqra’ memiliki implikasi bahwa objek yang dibaca adalah umum—disamping tentu saja Al-Qur’an sebagai kitab suci. Karenanya seorang yang beriman pada Al-Qur’an tidak perlu membatasi materi bacaan selama pembacaannya selalu menyertakan Bismi Rabbik. Pada tataran epistemologis frase Bismi Rabbik dapat dilihat sebagai rambu-rambu dalam ‘membaca’. Pembacaan tanpa menggunakan Bsmi Rabbik, katakanlah seperti filsafat sekuler—jika istilah ini disetujui, dapat melahirkan proses dan hasil yang berbeda dengan hasil pembacaan yang, sebutlah, Islami. Untuk sekedar menyebut contoh, bagi seorang rasionalis keraguan adalah metode epistemologis yang valid untuk mencapai kebenaran. Tapi hal ini ditolak oleh Al-Qur’an (10:36). Perintah membaca pada ayat pertama surat Al-‘Alaq dilanjutkan dengan isyarat terhadap pentingnya tulisan pada ayat keempat dan kelima. Tentang kaitan antara ayat 3-4 dan ayat sebelumnya, Al-Biqa’i menyatakan bahwa Allah mengajarkan pada Nabi saw. sekalipun saat itu beliau adalah seorang ummi sebagaimana Allah mengajarkan ilmu pada orang bodoh dengan pena. Disini terdapat penekanan terhadap pentingnya penulisan sebagai sarana transmisi ilmu yang dalam Islam mendapat tempat yang tinggi. Diantaranya adalah harus tersedianya sumber buku di Negara kita.

Dalam hal ini, berdasarkan data dari Intrenational Publisher Association Kanada, produksi perbukuan paling tinggi ditunjukkan oleh Inggris, yaitu mencapai rata-rata 100 ribu judul buku per tahun. Tahun 2000 saja sebanyak 110.155 judul buku. Posisi kedua ditempati Jerman dengan jumlah judul buku yang diterbitkan pada tahun 2000 mencapai 80.779 judul, Jepang sebanyak 65.430 judul buku. Sementara itu, Amerika Serikat menempati urutan keempat. Indonesia pada tahun 1997 pernah menghasilkan lima ribuan judul buku. Tetapi, tahun 2002 tercatat hanya 2.700-an judul. Sangat jauh apabila dibandingkan dengan produksi penerbitan buku tingkat dunia.

Belum lagi jika kita hendak kaitkan dengan angka rasio doktoral di setiap Negara, Almarhum Nurcholish Madjid pernah menyanyangkan rendahnya kualitas SDM bangsa kita di banding bangsa-bangsa lainnya, terutama dari bangsa-bangsa Barat. Kita lihat saja, berdasarkan data internasional atas angka rasio doktoral di setiap Negara dihitung per-satu juta kepala, yaitu diantaranya: Mesir dari satu juta penduduk Mesir terdapat 400 doktor, India dari satu juta orang India terdapat 600 doktor, Amerika terdapat 6.500 doktor, Israel (Yahudi) terdapat 65.000. Sedangkan Indonesia, dari satu juta orang Indonesia hanya ada 75 doktor. Tentu untuk bisa bersaing dengan bangsa-bangsa yang lain kita harus lebih meningkatkan SDM kita khususnya dalam dunia pendidikan.

Semoga dengan momentum Nuzulul Qur’an ini, kita dapat tergugah untuk meningkatkan kadar membaca kita, tentunya bacaan yang tidak melupakan aspek spiritualitas yang terkandung dalam kalimat “BismiRabbika” tadi. Dengan kecintaan kepada Al-Qur’an (membaca, memahami, & mengamalkannya) semoga  kita dapat lebih mendekatkan diri kepada hidayah Allah swt (menggapai derajat Taqwa). Sebab apa gunanya ilmu pengetahuan yang kita miliki, jika nanti hanya akan menjauhkan diri kita dari keRidha’an Allah swt.

Wallahu’alam Bishawab.

 

Izin Co-Pas dari www.arrahmah.com

M. Jibriel Abdul Rahman ” Saya menikmati ujian ini…! “

Jakarta (Arrahmah.com) – Alhamdulillah, hari ini, Selasa, 1 September 2009, Akhuna (saudara kita) M Jibriel Abdul Rahman bisa ditemui. Mengenakan kaos putih, celana krem, dengan senyum khasnya, pimpinan Ar Rahmah Media ini menemui rombongan yang dipimpin ayah beliau sendiri, Ustadz Abu Jibriel. Dalam kesempatan singkat tersebut, M Jibriel berpesan agar Arrahmah.com bisa tetap istiqomah memberitakan jihad dan berita dunia Islam. Allahu Akbar!

Dari Mabes Polri Ke Kelapa Dua

Rombongan berangkat dari kediaman Ustadz Abu Jibriel di Komplek Witana Harja, Pamulang sekitar pukul 11 pagi. Dengan dua mobil, rombongan pada awalnya meluncur ke Mabes Polri, Bareskrim, di Jl Trunojoyo No. 3, Kebayoran Baru. Tujuan rombongan sudah pasti ingin bertemu dengan Akhuna, M Jibriel, karena setelah 7 x 24 jam dari ‘penculikan’ beliau pada hari Selasa, 25 Agustus 2009, belum ada kejelasan baik status maupun kondisinya.

Rombongan tiba di Mabes Polri tidak lama setelah adzan zuhur berkumandang. Rombongan mendahulukan untuk sholat berjama’ah dipimpin langsung oleh Ustadz Abu Jibriel, sekaligus menjama’ dan menqoshor sholat. Setelah itu, rombongan ke ruang Bareskrim, dengan puluhan wartawan cetak dan elektronik yang selalu membuntuti. Sayangnya, M Jibriel tidak ada di sana. Ustadz Abu Jibriel tiba-tiba dikontak oleh Kadensus yang memberitahukan bahwa keberadaan M Jibriel ada di Markas Brimob, di Kelapa Dua, Depok. Rombongan pun bergegas menuju ke Kelapa Dua.

Pukul 2 tepat, rombongan berhasil masuk ke Markas Brimob Kelapa Dua yang dijaga sangat ketat, dimana wartawan pun tidak diperkenankan masuk. Setelah ditemui langsung oleh Kadensus di pintu masuk, dan sedikit basa-basi, Ustadz Abu Jibriel beserta istri, dan dua orang lawyer masuk terlebih dahulu untuk menemui Akhuna M Jibriel. Kurang lebih 30 menit kemudian, rombongan kedua menyusul, hingga semua rombongan bisa bertemu dan melihat langsung keadaaan M Jibriel. Alhamdulillah!

Istiqomah, dan Lanjutkan Perjuangan

Rasa haru dan syukur bercampur baur ketika melihat kondisi Akhuna M Jibriel yang sehat wal afiat, tidak kurang suatu apa pun. Wajah beliau cerah dan senyum selalu tersungging di bibirnya. Memang, ketika didekati, di hidung beliau, ada bekas luka, juga di mata sebelah kiri, terlihat lebam. Beliau juga mengiyakan kondisi tersebut dan mengatakan bahwa itu adalah ujian buat dirinya dari Allah SWT. Namun yang mengharukan adalah ucapannya bahwa dia menikmati ujian tersebut, bagaikan menikmati hidangan yang sangat lezat sekali. Itu yang beliau rasakan saat ini, Masya Allah.

Dengan senyum yang khas, beliau juga berpesan kepada Arrahmah.com dan seluruh sahabat-sahabat beliau, agar tetap istiqomah dalam menyuarakan dunia Islam dan jihad, serta tetap berimbang dalam pemberitaan. Dengan wajah ceria, beliau juga masih sempat menanyakan bagaimana kondisi kantor Arrahmah dan para pegawai, serta mendoakan agar mereka baik-baik saja. Setelah 1 jam lebih bersama beliau, rombongan pun harus pamit. Beliau dibawakan Mushaf Al Qur’an dan beberapa keperluan beliau. Ayah dan Ibu beliau berpesan, agar Al Qur’an yang mereka bawakan bisa menemani sepanjang hari, dan menasehati agar beliau selalu menjaga shalat.

Perjuangan & Doa Untuk M Jibriel

Rombongan meninggalkan Markas Brimob Kelapa Dua menjelang sore. Tentu saja, setelah memberi keterangan pers kepada para kuli tinta yang sudah lama menunggu di gerbang Markas Brimob sejak siang. Ustadz Abu Jibriel pun memberikan keterangan pers yang langsung diserbu oleh para wartawan. Ustadz Abu Jibriel menyampaikan apa adanya tentang keadaaan M Jibriel, anaknya, termasuk pemukulan yang dialaminya. Ustadz Abu Jibriel menganggap bahwa itu hak beliau sebagai seorang ayah untuk menyampaikannya.

Status Akhuna M Jibriel juga sudah berubah, menjadi tersangka. Anehnya, kali ini bukan lagi dengan tuduhan terkait dengan aliran dana untuk membiayai terorisme, namun dengan tuduhan lain, yakni tentang menyembunyikan informasi terorisme dan menyembunyikan buronan teroris. Tuduhan lainnya adalah terkait masalah imigrasi atau pemalsuan dokumen perjalanan. Semua tuduhan tersebut tentunya harus dibuktikan, dan bukan asal tuduhan.

Sepanjang perjalanan pulang rombongan tidak pernah lepas dari berdoa dan mempersiapkan perjuangan untuk Akhuna M Jibriel. Meskipun saat ini beliaunya sendiri merasakan ujian tersebut sebagai sesuatu yang ‘lezat’ dan merupakan kesempatan beliau untuk berkhalwat dengan Robbnya, Allah SWT, namun doa dan perjuangan untuk beliau tetap dibutuhkan. Semoga beliau juga tabah dan istiqomah dalam ujian tersebut, tidak bergeming dari jalan dakwah dan jihad, serta tetap dalam lindungan Allah SWT. Amien Ya Robbal Alamien…! (fachry/arrahmah.com)

Kiriman dari sahabat :

ALLAH

Connecting to Heaven & Earth Messenger

Sign in…

TUHAN :
Kamu memanggilKu ?

AKU :
Memanggilmu?
Tidak.. Ini siapa ya?

TUHAN :
Ini TUHAN.
Aku mendengar doamu.
Jadi Aku ingin berbincang-bincang
denganmu.

AKU :
Ya, saya memang sering berdoa,
hanya agar saya merasa lebih baik.
Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.

TUHAN :
Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.

AKU :
Nggak tau ya.
Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun.
Hidup jadi seperti diburu-buru.
Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.

TUHAN :
Benar sekali.
Aktivitas memberimu kesibukan.
Tapi produktivitas memberimu hasil.
Aktivitas memakan waktu,
produktivitas membebaskan waktu.

AKU :
Saya mengerti itu.
Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya.
Sebenarnya, saya tidak mengharapkan
Tuhan mengajakku chatting seperti ini.

TUHAN :
Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu,
dengan memberimu beberapa petunjuk.
Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium
yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.

AKU :
OKE, sekarang beritahu saya,
mengapa hidup jadi begitu rumit?

TUHAN :
Berhentilah menganalisa hidup.
Jalani saja.
Analisalah yang membuatnya jadi rumit.

AKU :
Kalau begitu mengapa kami manusia
tidak pernah merasa senang?

TUHAN :
Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin.
Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa.
Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu.
Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.

AKU :
Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu
banyak ketidakpastian.

TUHAN :
Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.
Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.

AKU :
Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.

TUHAN :
Rasa sakit tidak bisa dihindari,
tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.

AKU :
Jika penderitaan itu pilihan,
mengapa orang baik selalu menderita?

TUHAN :
Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan.
Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api.
Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita.
Dengan pengalaman itu, hidup mereka
menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.

AKU :
Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?

TUHAN :
Ya.
Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras.
Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.

AKU :
Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu?
Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?

TUHAN :
Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk
meningkatkan kekuatan mental.
Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan
dan rintangan, bukan dari berleha-leha.

AKU :
Sejujurnya, di tengah segala persoalan ini,
kami tidak tahu kemana harus melangkah…

TUHAN :
Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu
kemana kamu melangkah.
Lihatlah ke dalam.
Melihat ke luar, kamu bermimpi.
Melihat ke dalam, kamu terjaga.
Mata memberimu penglihatan.
Hati memberimu arah.

AKU :
Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita…
Apa yang dapat saya lakukan?

TUHAN :
Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.
Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri.
Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan
daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan.
Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran dengan
waktu.

AKU :
Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?

TUHAN :
Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan,
daripada masih berapa jauh saya harus berjalan.
Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung
apa yang tidak kau peroleh.

AKU :
Apa yang menarik dari manusia?

TUHAN :
Jika menderita, mereka bertanya “Mengapa harus aku?”.
Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya “Mengapa harus
aku?”

AKU :
Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya di sini?

TUHAN :
Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu.
Berhentilah mencari mengapa saya di sini.
Ciptakan tujuan itu.
Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.

AKU :
Bagaimana saya bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini?

TUHAN :
Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalan.
Peganglah saat ini dengan keyakinan.
Siapkan masa depan tanpa rasa takut.

AKU :
Pertanyaan terakhir, Tuhan.
Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.

TUHAN :
Tidak ada doa yang tidak dijawab.
Seringkali jawabannya adalah TIDAK.

AKU :
Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.

TUHAN :
Oke.
Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut.
Hidup adalah misteri untuk dipecahkan,
bukan masalah untuk diselesaikan.
Percayalah padaKu.
Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.

………TUHAN has signed out

GOD never give up on you, unless you giving up on Him   

ramadhan1 

Terasa sangat sedih melihatnya. Betapa baru pekan pertama Ramadhan sudah nampak masjid-masjid dan mushola, di mana jamaah shalat tarawihnya sudah berkurang drastis. Jamaah shalat tarawih tidak bertahan sampai pertengahan Ramadhan. Di masjid-masjid besar, dan di perumahan-perumahan yang ‘elite’, hanya hari pertama dan kedua, jamaah shalat tarawihnya penuh. Keadaan seperti ini menjadi fenomena yang sangat menggugah untuk diperhatikan.

Mestinya semakin mendekati akhir bulan Ramadhan, masjid-masjid dan mushola semakin dipenuhi dengan jamaah, yang ingin melakukan ibadah shalat tarawih, berdzikir, tadarus Al-Qur’an, tapi ini yang terjadi adalah kebalikannya. Semakin mendekati akhir bulan Ramadhan, terasa dan nampak kegiatan ibadah semakin menurun, masjid-masjid jumlah jamaahnya semakin sedikit, mungkin hanya tinggal beberapa shaf. Dan, tahun ini semakin terasa dan nampak, bagaimana masjid-masjid besar dan di perumahan ‘elite’, yang dulunya jamaahnya selalu penuh, sampai pertengahan Ramadhan, kini jamaahnya berkurang dengan sangat cepat.

Di masjid-masjid dan mushola tak terdengar lagi, suara orang-orang yang membaca Al-Qur’an. Usai shalat tarawih, masjid-masjid dan mushola sepi, hanya beberapa orang yang tertinggal, mungkin mereka ini penunggu atau penjaga masjid atau mushola. Sholat-sholat wajib lima waktu, yang menjadi kewajiban, jamaahnya di masjid-masjid dan mushola, tak nampak adanya jumlah yang besar orang melaksanakan shalat. Seperti hari-hari biasa. Tak ada perubahan yang membedakan antara bulan Ramadhan dengan bulan-bulan biasanya.

Anak-anak umur 10-13 tahun hanya berlari-lari berkejaran dengan teman-temannya, jarang yang mengikuti shalat tarawih dengan khusuk dan hikmat. Mereka bermain-main, sambil mempermainkan sarung mereka yang lilitkan dipinggangnya, sehingga menganggu kekhusukkan jamaah yang sedang shalat. Di bulan Ramadhan kali, tak ada pendidikan untuk anak-anak remaja, seperti pesantren kilat, seperti tahun-tahun sebelumnya, dan membiarkan waktu mereka berlalu, dan menjadi sia-sia. Mereka tak mendapatkan pendidikan agama, mereka tak mendapatkan pendidikan membaca Al-Qur’an, dan nilai-nilai Islam. Sehingga, mereka tak ada ketertarikan lagi kepada agama (Islam).

Ada phenomena baru, yang getir, selama dalam shalat tarawih, atau dikala shalat Jum’at, pemandangan yang umum, di mana jamaahnya, banyak diantara mereka yang tidak khusuk dalam shalat, mereka lebih khusuk dengan ‘dzikir’ baru, memencet fitur Hp nya, dan menggunakan BB (Black Berry), melakukan chating, dan membalas sms dari teman-teman mereka. Inilah pemandangan baru dikalangan remaja, dan sebagian orang-orang dewasa saat ini. Seakan mereka waktunya tidak cukup dikantor, di rumah, bahkan di masjid-masjid atau mushola, mereka tak pernah dapat melepaskan dari Hp dan BBnya. Mereka tak lagi serius memperhatikan ceramah dari para da’i, tapi mereka lebih memperhatikan pada benda yang ada ditangannya itu. Berulang kali, pengurus masjid mengingatkan agar, ketika berlangsung shalat hendaknya Hp dan BB itu dimatikan, tapi itu tak sepenuhnya mendapatkan respon.

Inilah sebuah generasi baru yang bakal mengisi masa depan Islam, di mana mereka tidak lagi, memiliki komitment (beriltzam) kepada Islam. Karena, hakekatnya mereka tidak faham terhadap Islam, dan tidak mendapatkan pendidikan Islam. Hari-hari mereka hanya diisi oleh hal-hal yang tidak bermanfaat, dan lebih bersifat merusak, khususnya bagi masa depan mereka. Mereka tidak lagi memiliki karakter Islam, dan akan menjadi generasi yang ‘hilang’ dari porosnya yaitu Islam. Mereka memiliki pendidik dan pembina serta mereka juga memiliki bapak dan ibu yang baru, yang kian akrab dengan mereka. Yaitu, seperti telivisi, play stasion, dan sarana-sarana baru, yang dapat memuaskan dahaga mereka, khususnya tentang kehidupan mereka. Generasi baru yang kosong dari agama (Islam), dan ini yang akhirnya akan menjadi ‘bom’ waktu di masa depan, dan berakibat fatal bagi kelangsungan umat dan bangsa.

Di bagian lain, di era kebebasan (demokrasi), dan para aktivis dakwah telah masuk kedalam ‘ mihwar siyasi’ (era partai politik) yang banyak menyihir para du’at, sehingga mereka tak lagi, memperhatikan tugas pokok mereka sebagai da’i, karena mereka sudah banyak yang beralih profesi menjadi politisi. Prinsip yang selama ini digaungkan dan diamalkan, dan menjadi pegangan mereka, ‘nahnu du’at, qobla ala kulli syai’, (kami da’i sebelum menjadi yang lain) ditinggalkan. Semuanya berakibat pada masa depan, khususnya kehidupan masa depan bagi kaum muslimin. Apalagi, ketika mereka ikut dalam partisipasi politik, tak menunjukkan pengaruh yang signifikan, semantara itu di sebagian kalangan du’at sudah mengalami proses ‘ijabah” (pelarutan) dari sisi aqidah, moral, pemikiran dan komitment. Dan, yang lebih mendasar lagi, umat kehilangan panutan, kehilangan arah, siapa yang akan diikuti dan menjadi suri tauladan mereka?

Di masjid-masjid kampus, sekolah, dan kantor, sekarang ini sulit mendapatkan da’i, yang dapat memberikan pendidikan agama dan arahan bagi mereka. Sehingga, dampaknya semakin menurun, dari waktu ke waktu pembinaan dan pendidikan yang ada di kampus-kampus, sekolah-sekolah dan kantor-kantor. Padahal, kelangsungan dan keberadaan umat Islam, hakekatnya sangatlah ditentukan para du’atnya. Ghirah dan semangat menegakkan Islam semakin menghilang, sebaliknya kehidupan duniawi semakin menjadi rebutan diantara para du’at.

Indonesia yang jumlah penduduknya 230 juta jiwa, yang mayoritas beragama Islam, mungkin suatu ketika akan menjadi kelompok minoritas, di tengah-tengah masyarakat sekuler, yang semakin dominan dalam segala lapangan kehidupan. Karena, tidak ada lagi mereka yang mau mendakwahkan Islam ke tengah-tengah masyarakat, dan mereka sibuk dengan urusan dunia. Wallahu’alam.

editorial www.eramuslim.com .  10 Ramadhan 1430H (Muhasabah u/ Qta yang tertatih di putaran awal Ramadhan tahun ini)

taqwa

Salah satu dari sekian banyak ciri-ciri orang-orang yang di cintai oleh ALLAH SWT adalah orang yang berTAQWA. Di Bulan Ramadhan yang mulia ini marilah qta ummat Islam, di manapun qta berada, berMujahadalah dalam menunaikan Shaum Ramadhan tahun ini. Semoga dengan keIkhlasan & keTulusan hati qta, Allah SWT akan memberikan gelar Muttaqin (orang-orang yang berTaqwa di sisiNYA) kepada qta semua, Amin.

Dirangkum dari Kitab “Jundullah Tsaqafatan wa Akhlaqan”
Penulis: Said Hawwa
Perangkum: Anugerah Wulandari
Penerjemah:
- Muhammad Masnur Hamzah, Lc
- Abdul Hayyie Al Kattani
- Noorchalis Hamzain
- Ahmad Rowie Baihaqi
- Rukman R.Said

#  Orang-Orang Yang Dicintai Allah SWT adalah Orang yang berTaqwa #

1. Kedudukan dan Urgensi Taqwa dalam Islam.

Satu, Allah SWT berfirman (An Nisaa’:131). Dan wasiat Allah SWT kepada seluruh umat: (Asy Syu’ara: 10-11), (Asy Syu’ara: 123-124) (Asy Syu’ara: 161) (Asy Syu?ara: 123-124), (Al Baqarah: 183), (Al Baqarah: 188), (Al Baqarah: 179), (Asy Syu’ara: 108).
Dua, Allah SWT menjadikan takwa sebagai ukuran dekat dan jauhnya seseorang dari-Nya. (Al Hujurat: 13).
Tiga, surga yang luasnya seluas langit dan bumi hanya untuk orang yang bertaqwa. (Al Baqarah: 212), (Al Hijr: 45), (Al Qamar: 54)
Empat, Orang bertaqwa senantiasa tertindas, sebagai sebuah sunnatullah. (Muhammad: 31), (Ali Imran: 142), (At Taubah: 16), (Al Qashash: 5-6)
Lima, Orang bertaqwa akan ditolong Allah, sebagai sebuah sunnatulah. (Al Fath: 23), (Faathir: 43).

Syarat-syarat datangnya pertolongan Allah:
1. Persatuan. (Al Anfaal: 46)
2. Bergantung hanya pada Allah SWT. (At Taubah: 25)
3. Mendukung dan taat pada pemimpin selama dalam kebaikan. (Ali Imran: 152)
4. Beramal hanya mengharapkan ridha Allah SWT. (Muhammad: 7), (Al Qashash: 83)
5. Hendaknya jamaah mu?min mewujudkan tujuan-tujuan umu Islam pada saat
kemenangannya. (Al Hajj: 40-41)
6. Setiap individu muslim hendaknya saling membahu. (Al Maa’idah: 54)

2. Intisari dan Hakikat Taqwa

Pertama, universalitas Islam.
Kedua, taqwa adalah sebuah naluri yang merupakan sumber dari tingkah laku.
Ketiga, Sifat-sifat orang bertaqwa di dalam Al Qur?an. (QS. 2: 1-5), (QS.2: 177), (QS. 3: 15-17), (QS.3: 133-136), (QS. Al Anbiyaa’: 48-49), (QS. Adz Dzaariyat: 16-19) :

a). Definisi Pertama Orang yang bertaqwa. (QS. 2: 1-5) (Iman terhadap alam ghaib, shalat, infak, mengikuti Al Qur?an). Berikut ini sebagian fenomena dari solidaritas tanggung jawab dalam rangka menegakkan kitabullah.
1. Solidaritas keluarga. (Thaahaa: 132), (Maryam: 55), (Al Baqarah: 132), (Al Baqarah: 128).
2. Solidaritas terhadap kerabat. ?Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.? (Asy Syu’araa: 214)
3. Solidaritas terhadap negara. ?Sebaik-baik jihad adalah menegakkan kalimat hak terhadap penguasa yang zalim.? (HR. Abu Dawud)
4. Solidaritas umum yang terjadi di masyarakat. (At Taubah: 71)
5. Solidaritas dalam negara. (Ali Imran: 110)

b) Definisi Kedua Orang-Orang yang Bertaqwa (Al Baqarah: 177).
(1). Memberikan harta yang dicintai kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir dan orang-orang yang meminta dan memerdekakan hamba sahaya.
(2). Dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji.
Satu, janji kepada Allah yaitu pengakuan untuk menuhankan dan beribadah. (Al A’raaf: 172)
Dua, janji komitmen secara teori dan keilmuan terhadap syariat Islam. (Al Maaidah: 7), (Al Baqarah: 285)
Tiga, janji menepati kewajiban muamalah sesama manusia.
Empat, janji baiat kepada pemimpin yang hak atau khalifah.
Lima, menepati janji kepada non muslim, baik harbi maupun dzimmi ataupun muahid. (an Nahl:91)
(3). Sabar dalam kefakiran, sabar terhadap penyakit dan musibah, sabar dalam peperangan, sabar dalam Islam dan tetap tegar memegang nilai-nilainya di saat manusia menyimpang darinya, sabar dalam kehilangan harta dan keluarga.

c) Definisi Ketiga Orang-Orang yang Bertaqwa (Ali Imran: 15-17)
- Ash-shidqu terhadap Allah SWT (Al Ahzab: 23) dan dengan lidah.
- Al Qunut. (Ali Imran: 17)
- beristighfar pada waktu sahur. (Adz Dzaariyaat: 18)

d) Definisi Keempat Orang-Orang yang Bertaqwa. (Ali Imran: 133-136)

e) Definisi Kelima dari Orang-Orang yang Bertakwa. (Al Anbiyaa: 48-49)
Satu, Takut akan azab Tuhannya. (Al Ahzab: 39), (Al A?raf: 99), (Az Zumar: 23), (Al Hasyr: 21)
Dua, Takut akan tibanya hari kiamat. (Ath-Thuur: 16-27)

f) Definisi Keenam Orang-Orang yang Bertakwa (Adz Dzaariyaat: 16-19)
Satu, memiliki ihsan.
Dua, Menyedikitkan waktu tidur malamnya.
Tiga, Shalat malam dan istighfar di waktu pagi.
Empat, Memberi kepada orang miskin.

3. Jalan untuk Mencapai Taqwa

Pada hakikatnya, takwa merupakan malakah? sifat yang kokoh? dalam hati. Jika malakah bersemayam dalam hati, jasad akan menempuh jalan dan metode Allah SWT.

a) Jalan Pertama.
Membaca Kitab disertai tadabbur. (Shaad: 29), (Thahaa: 113), (Al Hajj: 46).
(1) Kadar Wirid. Waktu minimal khatam, adalah tiga hari. Batas pertengahan adalah seminggu.
(2) Etika Tilawah: Perhatikan tajwid dan bersenandung dengan pilu dan sedih.
(3) Majelis untuk Mendengarkan.
(4) Wirid hafalan

b) Jalan Kedua.
Mujahadah meraih petunjuk. (Al Ankabuut: 69), dengan cara:
(1) Iman kepada Allah (At-Taghaabun: 11) dengan cara zikir dan pikir (Ali Imran: 190-191) dan amalan zikir pikir yang paling baik adalah membaca Al Qur?an (Yaasiin: 69) dan sebaiknya dibaca pada waktu malam (Al Muzzammil: 6).
(2) Menyibukkan jiwa selamanya dengan taklif (tugas-tugas agama). Beruntunglah orang-orang yang beriman (Al Mu?minuun: 1- 9)

c) Jalan ketiga.
Berpuasa (Al Baqarah: 183-185), yaitu puasa wajib dan puasa sunnah (puasa senin dan kamis, puasa tiga hari dalam setiap bulan, puasa enam hari di bulan syawal, hari arafah, asyura serta sebelum dan setelahnya.

d) Jalan Keempat.
Ma?rifatullah (Al Baqarah: 21).
(1) Mengetahui zat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan nama-nama-Nya.
(2) Mengenal shamadi-Nya (ketergantungan segala sesuatu pada-Nya) (Faathir: 41)
(3) Mengenal Qidam-Nya dan Baqa-Nya. Dia mustawin ?bersemayam? di atas arasy-Nya. (As SYuura: 11), (Al Ikhlas: 1-4)
(4) Mengenal sifat ilmu-Nya (Al An’am: 80)
(5) Mengetahui DiaMaha Memperbuat yang diinginkan (Yaasiin: 82)
(6) Mengetahui Dia Maha Mendengar dan Melihat (Luqman: 28)
(7) Mengetahui Dia Mutakallim (Maha Berbicara) (An Nisaa: 164)
(8) Mengetahui sifatnya adalah qadim azali.
(9) Mengetahui bahwa Allah bisa mencintai, bisa marah, dan membenci, bisa memberi karunia, bisa membalas dendam, dan bisa mengasihi, bisa memberi sangsi.
(10) Mengetahui Allah melalui Asmaul Husna. (Al A’raaf: 180).

Semoga bermanfaat.

 

 

tadamonradiopalestine

 

www.arrahmah.com

Ihab Al-Ashqar, seorang remaja Gaza berusia 14 tahun, tersenyum pahit saat menjelaskan mengapa ia tidak merasakan kegembiraan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

“Semua perbatasan ditutup. Mereka (Israel) sedang membunuh kami perlahan,” katanya Ihab pedih.

Sebagaimana hampir 1,6 juta orang di Gaza, Ashqar kehilangan kegembiraan bahwa Ramadhan adalah bulan istimewa bagi seluruh muslim tiap tahunnya.

Tahun ini, bulan suci Ramadhan mendatangi Gaza yang sedang dilingkupi oleh barbarisme perang Israel dan tercekik oleh pengepungan bangsa Zionis.

“Hati kami dan rumah kami disesaki duka dan kesedihan,” kata Huda Al-Astal membatin.

“Hidup kami merana. Kami hampir tidak dapat bernafas.”

Israel telah mengisolasi wilayah Gaza dan penduduknya dari dunia sejak Hamas terpilih untuk berkuasa pada tahun 2006, serta menutup semua perbatasan.

Israel juga menghalangi bantuan kemanusiaan yang terdiri dari barang-barang yang sangat jauh dari membahayakan seperti keju, sikat gigi, pasta gigi, sabun, dan tisu toilet.

Bahkan warga Palestina di Jalur Gaza harus rela menikmati shaumnya di bawah bayang-bayang kegelapan karena Israel terus-menerus memblokir pengiriman bahan bakar.

“Bahkan kami tidak memiliki penerangan,” salah seorang ibu menggerutu.

“Kami mungkin tidak akan bisa bertahan.”

Kejadian ini sungguh mengharukan seharusnya bagi kaum muslimin di negeri-negeri lainnya.

“Biasanya menjelang Ramadhan, orang-orang pergi ke pasar untuk membeli seluruh kebutuhan mereka satu bulan penuh,” ujar Mohammed Farag, salah seorang pedagang.

“Namun tahun ini, kami memiliki sedikit sekali persediaan barang untuk dijual, dan orang-orang pun tidak memiliki uang untuk membelinya.”

Seperti yang dialami oleh Abu Mohamed Al-Shawwa. Ia berjalan menyusuri pasar untuk mencari keperluan yang akan dibeli untuk keluarganya dengan uang seadanya.

“Harga-harga semakin membubung tinggi,” katanya putus asa.

“Bahkan yang saya berikan pada keluarga saya tahun lalu, sepertinya tidak dapat saya berikan pada Ramadhan tahun ini.”

Jumlah pengangguran di Jalur Gaza saat ini melebihi 60% dan Bank Dunia memperkirakan bahwa dua per tiga populasi di wilayah ini harus hidup di bawah garis kemiskinan. Lebih dari satu juta orang bertahan dengan pasokan makanan dari PBB.

Nihad Al-Helw, ibu delapan orang anak yang suaminya kehilangan pekerjaan akibat penjajahan Israel mengatakan bahwa dirinya yakin akan mendapatkan makanan untuk berbuka.

“Saya hanya berharap anak saya memperoleh satu jenis makanan saja untuk disantap.”

Anaknya, We’aam, sudah mengerti bahwa ia tidak mungkin menemukan daging, ikan, dan buah dalam menu makannya.

Namun yang paling menyakitkan baginya adalah bahwa ia tidak akan mendapat lampu warna-warni yang biasa dibelikan ayahnya tiap kali Ramadhan tiba.

“Ini akan menjadi Ramadhan yang paling menyedihkan seumur hidup saya.” kata We’aam sambil menangis. (Althaf/IOL/arrahmah.com)

Almaza Samuni selalu menunggu-nunggu datangya bulan suci Ramadhan, waktu favoritnya di setiap tahunnya.  Namun tahun ini Ramadhan sangat berbeda.

 

“Aku sedih karena ibuku tidak lagi disampingku untuk membuat makanan santap sahur dan berbuka,” ujar anak piatu tersebut.

Samuni, 13, biasanya membantu ibunya memasak untuk persiapan berbuka untuk dirinya dan enam saudaranya, kini mereka semua telah tiada, mereka gugur dalam serangan brutal tentara zionis Israel pada Desember silam.

Samuni kini hidup di kamp-kamp pengungsian di Jalur Gaza. Setiap harinya selama Ramadhan ini, yang dimulai pada hari Sabtu di Gaza, ia menghabiskan masa hanya bersama ayahnya, yang masih terbaring sakit akibat luka-luka yang dialaminya sejak Israel menyerang.

“Ramadhan sangat berat tanpa mereka,” ujar Samuni dengan nada rendah.

Ayahnya, Ibrahim, berkata sambil berbaring di tempat tidurnya di kamp pengungsian, Ramadhan membuka luka hatinya dan mengingatkannya akan peristiwa yang telah merenggut nyawa istri dan enam orang anaknya.

“Istriku, anakku, saudara kandungku dan pamanku seluruhnya telah tiada,” ujarnya sambil terisak.

Lebih dari 1.400 Muslim sipil Gaza termasuk ratusan anak-anak mejadi korban kebiadaban tentara zionis Israel dan lebih dari 5.450 mengalami luka-luka dalam serangan kurang lebih tiga pekan tersebut, yang dilakukan dari arah darat, laut dan udara.

Tidak jauh dari tenda Samuni, terdapat tenda dimana Dalal Abu Aisha hidup, ia juga mengalami hal yang serupa.

Gadis berumur 14 tahun ini satu-satunya yang selamat ketika tank Israel menghantam rumahnya.

Ia sendirian melewati waktu sahur dan berbuka yang biasanya dilakukan di sebuah meja bundar yang dikelilingi oleh ibu dan tiga saudaranya.

Sejak penyerangan yang dilakukan zionis Israel, Dalal menjadi pemurung, ia tidak mengeluarkan kata-kata apapun dari mulutnya.

“Dia selalu terlihat menggagu,” ujar Umm Adel, bibi Dalal yang kini memeliharanya.

“Kehidupan Dalal sangat berat,sama seperti anak-anak lainnya yang kehilangan saudara dan orang tua mereka.” (haninmazaya/IOL/arrahmah.com)

ret

Nasyid Raihan :

~ HARAPAN RAMADHAN ~

Ku mengharapkan Ramadhan
Kali ini penuh makna
Agar dapat kulalui
Dengan sempurna

Selangkah demi selangkah
Setahun sudah pun berlalu
Masa yang pantas berlalu
Hingga tak terasa ku berada
Di bulan Ramadhan semula

Puasa satu amalan
Sebagaimana yang diperintah-Nya
Moga dapat ku lenturkan
Nafsu yang selalu membelenggu diri
Tiada henti-henti

Tak ingin ku biarkan Ramadhan berlalu saja
Tuhan pimpinlah daku yang lemah
Mengharungi segalanya dengan sabar
Kita memohon pada Tuhan diberikan kekuatan
Ku merayu pada Tuhan diterima amalan

Selangkah demi selangkah
Dengan RahmatMu Oh Tuhanku
Ku tempuh jua …

 

Nasyid Stars :

~ MAKNA RAMADHAN ~

Wahai Insan, mari beringatlah
Akan makna bulan berpuasa
Bulan suci bulan Ramadhan
Bulan mulia bulan pahala

Renungilah sabda Junjungan SAW
Banyak orang yang berpuasa
Tiada pahala bagi mereka
Hanya sebatas lapar dahaga

Jadikanlah itu sebagai ingatan
Agar kita bersedia menjaganya
Jadikanlah puasa kita puasa yang diterima
Moga Allah beri kita gelar Taqwa

Jagalah mata, jaga telinga
Dari perbuatan yang sia-sia
Jagalah lidah dan tutur kata
Moga Allah layakkan kita berHari Raya

Marhaban yaa Ramadhan 1430H

Do’a Melihat Hilal, Selamat Datang Ramadhan …

Ya Allah, jadikan Bulan baru ini bagi kami membawa rasa aman dan keImanan, serta membawa selamat dan keIslaman … amien 3x

hilal_1_ramadhan_1430h_pakarfisika

Bulan suci Ramadhan 1430 H sebentar lagi. PP Muhammadiyah melalui Maklumat Nomor : 06/MLM/I.0/E/2009 mengumumkan penetapan tanggal 1  Ramadhan 1430 H bertepatan dengan hari Sabtu Pahing, tanggal 22 Agustus 2009, Insya Alloh.

… untuk informasi selengkapnya silahkan mengunjungi Web Blog sahabat baru saya di http://pakarfisika.wordpress.com

Ramadhan 1430H 

Bulan Ramadhan … Hari demi harinya adalah rentang waktu lipatan pahala yang tak ada batasnya. Jam demi jamnya adalah rangkuman kasih sayang Allah swt kepada hamba-hamba-Nya. Menit demi menitnya adalah hembusan angin surga yang begitu menyejukkan. Detik demi detiknya adalah kesempatan yang tak ternilai dibandingkan seumur hidup kita. Maka, mengagendakan aktifitas selama bulan Ramadhan menjadi sangat penting. Disiplin dan hati-hati menjalani hari-harinya harus menjadi tekad dalam hati semua hamba Allah swt yang menghendaki maghfirah dan hidayah-Nya.

Ramadhan segera menjelang. Jangan mau hanya mendapat lapar dan dahaga saja. Raihlah ampunan Allah yang seluas langit dan bumi itu. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1430H, sobat. Selamat berjuang di bulan Ramadhan ini untuk mendapat predikat muttaqin, orang yang bertakwa. Sambut Ramadhan, jemput ampunan-NYA. Tetap Semangat Pantang Mengeluh !!! Allohu Akbar ! :)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.