Lewati navigasi

Arsip Bulanan: September 2009

Tetap berjalan, iringi hidup tapaki waktu yang tidak berulang. Dapati sketsa hari – hari yang telah menitipkan banyak warna. Inilah detak jantung trotoar yang makin hari makin mengganas mengawal aspal peradaban dan angkuhnya cengkeraman metropolis, menjalar membakar karakter urban, yang hari ini sebagian dari masih terus bertahan dalam pertempuran 24 jam nonstop, karena di dalam tidurpun kami harus selalu siaga atas lelahnya reduksi pikiran yang beriak, setelah hari hari membunuh daki dan debu debu berhimpitan dalam cakrawala harapan, cita – cita, realitas dan stagnasi.

Ini adalah resistensi, terhadap diri sendiri, dirimu, kalian, mereka, engkau, dia dan semua yang coba berkata dalam baris baris bibir tentang ‘kebenaran’ dan kemungkinan lainnya. Ketika dialektika hanya sebuah tarian basah dari teknik balet bernama retorika dengan guru ketaklitan entah itu mau pakai label ulama, agama atau atheis sekalipun.

Lelucon para perangsang wahyu dan dialektika, yang kebanyakan justru begumam dari kepastian sebuah ketidakpastian yang mereka pastikan atas dasar yang sebenarnya secara tidak sadar ada kepastian yang menjadi tidak pasti, karena dunia ternyata terlalu pasti untuk terbiasa melambai dusta dalam paralel sejarah, tradisi, hegemoni dan doktrin mati dogmatisasi, yang ujung dari tarian itu lebih banyak hanya melahirkan justifikasi dan tebang pilih. Semoga hari ini saya tidak benar – benar menemukan Karl Marx berkolaborasi dengan fatwa MUI.

Maka saya bersyukur pada ignorance, ketika knowledge adalah hegemoni ID Palsu dan secawan propaganda yang membuat saya makin bersyukur bisa membunuh karl marx dan tuhan secara bersamaan. karena proletar adalah kapitalis adalah konspirasi adalah kepalsuan adalah politisasi ideologi yang jauh lebih busuk dari euforia dominasi game poker di facebook saat ini.

Ketika segelintir patriot membabi buta, mereduksi konsep baik dengan label dialektika atau manifesto. Maka air mani itu justru lebih berharga, karena dari situ saya bisa belajar siapa saya dan kemana saya pergi. Dan dari situ saya mengerti alasan saya berdiri baik secara fisik, ideologi ataupun iman.

Urbanisasi semangat dan daya tahan terhadap hidup, maka ini memang resistensi dari kolong langit kaum urban. sejajar menjalar arti langkah jalan menuju manifestasi jati diri yang final. Dan karena itulah..kami tidak perlu lagi menjadi dungu seperti Wiro Sableng dan Sinto Gendeng dengan ribuan jurus perubah pemikiran diatas panggung kusir delman dan pesanan jamaah juga ketaklitan massal dari patriot egosentris entah dengan atau tanpa label administrasi golongan.

Kebenaran bagi kami sudah final, kebenaran yang membuat kami malas pergi sholat tarawih, kebenaran yang membuat kami menelanjangi bahkan mengazab semunya dongeng kuburan meledug dan lelucon mayat belatungan. Kebenaran yang membuat kami menutup pintu rumah kami ketika kalian bicara tentang kemenangan kebenaran diatas dukungan sebanyak-banyaknya, sejak voting dan hak pilih adalah keharaman karena itulah lebih masa bodoh lagi bagi kami untuk mencari dukungan sebanyak banyaknya demi kebenaran ini, maka saya terlalu yakin karl marx dan adam smithpun paham, tidak mungkin amerika menjadi begundal demokrasi dengan slogan patriotisme ala Che Guevara dan Stalin dari kacamata Gatotkaca dan kentut semar. Percayalah! Kuku Bima hanya bisa kamu temukan di warung kopi jahe dan jamu tradisional!

Dan hari ini, kami semakin mampu mereduksi hari, memaknai hidup untuk mengerti keterasingan itu anugerah. Karena kemuliaan itu sejatinya datang dalam keadaan asing dan pergi juga dalam keadaan yang asing. Tidak perlu banyak berpikir bagaimana kalian akan meninggalkan kami, atau justru kalian berpikir bagaimana cara merekrut kami. Karena sejatinya kami sudah meninggalkan kalian, jauh dan makin jauh dan akan semakin jauh. Menjadi ‘bodoh’ adalah lebih baik bagi kami, daripada menjadi ‘pintar’ dengan bergumam atas sambilan resistensi ujung aspal, ah Iwan Fals justru melakukan itu jauh lebih baik dengan atau tanpa Setiawan Djody di sana.

Inilah anugerah, karena kebenaran yang benar adalah kamu belajar dari ketidakbenaran untuk mengerti bahwa itu tidak benar. Hingga kamu akan melihat dan merasakan nikmatnya hidup dengan kebenaran sejati itu karena kamu mengimaninya dengan penjelasan sejelas jelasnya nasehat dari guru terbesar itu yaitu pengelaman hidupmu. Karena jika ‘itu’ benar..maka ia berkata dan melakukan, seperti ia melakukan apa yang ia katakan, dan yang benar itu juga tidak perlu dukungan dan tidak mengemis untuk diterima. Ia tetap benar dengan atau tanpa dukungan siapapun..maka hiduplah dan maknailah hidup, dan rasakanlah indahnya hidup dengan menjadikan dirimu tuhan dan berjalan bersama Kekuatan yang menciptakan semua tuhan dimuka bumi ini!

Makan tuh ‘kebenaran’!

Di Tulis Dengan Penuh Senyum Oleh : Thufail Al Ghifari

hey mom.. i miss u tonight..
it’s close to idul fitri but you still a christian,
i hope you always be fine there,
and i hope Allah will give you Hidayah…
do you know how much i love u..do you know how much i miss u…
i always think about you everyday,
E V E R Y D A Y !
hope you will be a moslem in this year Idul Fitri,
but if its not! i will never stop pray for you,
I love u mom and i always do… I miss u so much…

Leave my regards to my lovely father there
anger that he had given me,
because I chose Islam as my way of life
really … I do not grudge him the slightest..
I Love Him Too…

I miss u.. and father too..

eidfitr

“Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Wa Ja’alanallahu Minal ‘Aidin Wal Faizin” 
 
“Semoga Allah menerima (amalan-amalan) yang telah aku dan kalian lakukan (selama Bulan Ramadhan) dan semoga Allah menjadikan kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan (di Bulan Syawal ini)”.
 
Izinkan aku kembali, mengisi WebBlog ini, setelah beberapa hari menepi, mengisi akhir Ramadhan & awal Syawal 1430H dengan Istri, anak & Keluarga besar Istriqu.
 
Ramadhan 1430H : Dalam Kenangan…
Alhamdulillah… Telah selesai sudah perjuangan puasa Ramadhan tahun ini.
Semoga Allah menerima segala amal ibadah Ramadhan Qta kali ini. Amin.
Ramadhan telah berlalu, namun semoga aura semangat perjuangan Ramadhan masih tetap terasa & membekas dalam diri ini.
Teringat malam-malam ganjil terutama malam ke-27 dan 29 di Masjid Baitut Taqwa Kantor Dirjen Bea Cukai Jakarta. Malam yang menurut Rasulullah SAW Lailatul Qadr turun pada saat itu. Tentu saja pada malam itu dipastikan akan dipadati jama’ah. Benar saja, perlahan namun pasti para jama’ah masjid khususnya muttakifin dan muttakifah (Orang-orang yang beri’tikaf) mulai memadati setiap ruang kosong hamparan masjid. Lantai satu untuk muttaqifin (peserta i’tikaf ikhwan) dan lantai dua untuk muttaqifah (peserta i’tikaf akhwat). Keagungan ayat-ayat suci Al-Quran mulai terlantun bersahutan. Sebagian juga ada yang memperbanyak dzikir dan shalat sunnah. Allahu Akbar…!

Menjelang ceramah ba’da Tarawih sekitar jam 21.30 jama’ah semakin banyak. Puncaknya adalah setelah caramah selesai. Jam 23.00, masjid semakin sesak sampai tidur pun sulit… harus mencari tempat yang benar-benar kosong dan pas buat satu badan.
Lantunan tilawah & dzikir, dan jama’ah yang menegakkan sahalat sunnah tetap menghidupkan masjid tersebut hingga menjelang pukul 01.00 dini hari.
Allahu Akbar! Andaikan keadaan di dalam masjid tersebut berlangsung terus pada bulan-bulan selanjutnya… mungkin Islam sudah bangkit dan jaya sekarang.
Jam 02.30 sudah dibangunkan kembali oleh panitia penyelenggara I’tikaf untuk melaksanakan Qiyamullail yang dilanjutkan muhasabah… Jam 03.45 makan Sahur hingga waktu Imsak tiba, di lanjutkan dengan Sholat Shubuh Berjamaah & Kajian keIslaman hingga waktu Dhuha’ menjelang.
Allahu akbar! pagi itu diri ini benar-benar merasakan sebagai makhluk Allah yang sangat hina. Air mata ini mengalir deras sejadinya meratapi semua dosa-dosa yang teringat pernah dilakukan…
Terpatri dalam jiwa ini ketika itu bahwa tidak akan lagi diri ini mengulangi dosa-dosa dan kesalahan di masa silam… bertaubat dan berazam untuk yang kesekian kalinya takkan mengulangi kesalahan dan segala dosa, bertekad untuk menjadi HambaNya yang selalu taat kepadaNya… amin

Semoga spirit Ramadhan yang telah dibangun di sisa-sisa sepuluh hari terakhir Ramadhan kemarin dapat menjadi sumber kekuatan yang takkan pernah habis hingga Allah mentakdirkan diri ini kembali menyapa RamadhanNya tahun depan…
Robbanaa Taqobbal Minna Innaka Antas Sami’un ‘Alim…
Wa tub’alaina Innaka Antat Tawwaaburrahiim…
Ya Robb kami, terimalah amal ibadah kami,
sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui…
Dan terimalah taubat kami,

sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang..

“Robbij’alnii muqiimas sholati wa min dzurriyatii Rabbana Taqobbal Du’aa”.
Ya Allah Ya Rabb ku, jadikanlah aku dan keluargaku orang yang mendirikan sholat, Ya Robb kabulkan lah do’a ku.

“Yaa Muqollibal quluub tsabit quluubana ila diinika”.
“Robbana la tuzigh quluubana ba’da idz hadaitana wa hablana min ladunka rohmah , innaka Antal Wahaab”.
Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikan hati ini tetapkanlah kami dalam Agama-Mu
Ya Allah Ya Tuhan kami janganlah Kau palingkan hati ini setelah datangnya petunjuk ini kepada kami dan berikanlah kami dari kasih sayang-Mu, karena sesungguhnya hanya Engkaulah Yang Maha Pemberi.

 

Lailatul Qadar2

Tausyiah
Menggapai Keutamaan Lailatul Qadar

Ikhwati fillah, tiada terasa kita segera memasuki sepertiga bagian dari bulan yang kita cintai, bulan Ramadhan Mubarak. Detik-detik waktu serasa berlalu begitu cepat, sedangkan langkah kita pun masih tertatih-tatih untuk menyempurnakan rasa syukur kita bertemu dengan bulan yang mulia ini. Rasanya seperti baru kemarin saja kita memulai puasa di hari pertama, namun kini kita hendak berpisah dengannya dalam beberapa hari ke depan. Tentu hal ini seharusnya memperkuat azzam yang ada di dalam diri untuk lebih memperbaiki kualitas ibadah kita secara total di sepuluh hari yang terakhir, insya Allah.

Di antara amalan utama di sepuluh hari terakhir yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Muhammad SAW ialah pelaksanaan ibadah I’tikaf di masjid. I’tikaf secara harfiah bermakna tinggal di suatu tempat untuk melakukan sesuatu yang baik. Sehingga makna dari I’tikaf adalah tinggal atau menetap di dalam masjid dengan niat beribadah guna mendekatkan diri kepada Allah Swt. Di dalam Al-Qur’an sendiri terdapat penggunaan kata I’tikaf yang termaktub pada firman Allah Swt : Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu berI’tikaf di dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat ayat-Nya kepada manusia supaya mereka berTaqwa (QS 2:187).

Bagi seorang muslim yang hendak mencari predikat Muttaqin seiring dengan berlalunya bulan Ramadhan ini, maka ibadah I’tikaf ini merupakan sarana penting dalam mencapai kesempurnaan ibadah di bulan Ramadhan. I’tikaf sekaligus merupakan sarana muhasabah dan kontemplasi yang efektif bagi muslim dalam memelihara dan meningkatkan kualitas keIslamannya.

Para ulama telah berijma’ bahwa I’tikaf, khususnya 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan merupakan suatu ibadah yang disyariatkan dan disunnahkan. Rasulullah SAW sendiri senantiasa berI’tikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari. Aisyah, Ibnu Umar dan Anas ra meriwayatkan : Rasulullah SAW selalu berI’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan (HR. Bukhori dan Muslim)

Hal ini dilakukan oleh beliau hingga wafat, bahkan pada tahun wafatnya beliau berI’tikaf selama 20 hari. Demikian pula halnya dengan para shahabat dan istri Rasulullah Saw senantiasa melaksanakan ibadah yang amat agung ini. Imam Ahmad berkata : Sepengetahuan saya tidak ada seorangpun dari ulama yang mengatakan bahwa I’tikaf itu bukan sunnah.

Abu Daud pernah bertanya kepada Imam Ahmad : Tahukah anda hadits yang menunjukkan keutamaan I’tikaf ? Ahmad menjawab: tidak, kecuali hadits yang lemah. Namun demikian tidaklah mengurangi nilai ibadah I’tikaf itu sendiri sebagai taqorrub kepada Allah SWT. Dan cukuplah keutamaannya bahwa Rasulullah, para Shahabat, para Istri Rasulullah SAW dan para ulama salafusholeh senantiasa melakukan ibadah ini.

Ibnu Qoyyim berkata : I’tikaf disyariatkan dengan tujuan agar hati berI’tikaf dan bersimpuh dihadapan Allah, berkhalwat denganNya, serta memutuskan hubungan sementara dengan sesama makhluk dan berkonsentrasi sepenuhnya kepada Allah.

Salah satu urgensi kita melakukan ibadah I’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan, adalah karena pada rentang waktu tersebut, Allah SWT telah menyediakan satu malam yang mulia yaitu Lailatul Qadar (malam kemuliaan).

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ(1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ(2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ(3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ(4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ(5)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) saat Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala uuusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (Al-Qadr: 1-5)

Allah telah menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh keberkahan. Allah Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi.” (Ad-Dukhaan:3) Dan malam itu berada di bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah Ta’ala : “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an. “(Al-Baqarah: 185).

Ibnu Abbas radhiallahu’anhu berkata : “Allah menurunkan Al-Qur’anul Karim keseluruhannya secara sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah (langit pertama) pada malam Lailatul Qadar. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan konteks berbagai peristiwa selama 23 tahun.”
Malam itu dinamakan Lailatul Qadar dikarenakan keagungan nilainya dan keutamaannya di sisi Allah Ta’ala dan pada saat itu pula ditentukan ajal, rizki, dan lainnya selama satu tahun, sebagaimana firman Allah: “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad-Dukhaan: 4).

Kemudian, Allah berfirman mengagungkan kedudukan Lailatul Qadar yang Dia khususkan untuk menurunkan Al-Qur’anul Karim : “Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu?” Selanjutnya Allah menjelaskan nilai keutamaan Lailatul Qadar dengan firman-Nya : “Lailatul Qadar itu lebih baik dari pada seribu bulan.” Sehingga beribadah di malam itu dengan ketaatan, shalat, tilawah, dzikir, do’a dsb sama dengan beribadah selama seribu bulan di waktu-waktu lain atau sama dengan 83 tahun 4 bulan.

Lalu Allah memberitahukan keutamaannya yang lain, juga berkahnya yang melimpah dengan banyaknya malaikat yang turun di malam itu, termasuk Jibril ‘alaihis salam. Mereka turun dengan membawa semua perkara, kebaikan maupun keburukan yang merupakan ketentuan dan takdir Allah. Mereka turun dengan perintah dari Allah. Selanjutnya, Allah menambahkan keutamaan malam tersebut dengan firman-Nya : “Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar” (Al-Qadar: 5)

Maksudnya, malam itu adalah malam keselamatan dan kebaikan seluruhnya, tak sedikit pun ada kejelekan di dalamnya, sampai terbit fajar. Di malam itu, para malaikat -termasuk malaikat Jibril- mengucapkan salam kepada orang-orang beriman. Dalam satu hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan keutamaan melakukan qiyamul lail di malam tersebut. Beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih)

Tentang waktunya, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya).
Yang dimaksud dengan malam-malam ganjil yaitu malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dan malam dua puluh sembilan.

Disunnahkan bagi orang yang berI’tikaf untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar untuk menghidupkan malam dengan memperbanyak ibadah dan taqarrub kepada Allah SWT, seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat kepada Nabi Saw, do’a dan sebagainya. Namun demikian yang menjadi prioritas utama adalah ibadah, ibadah mahdhah. Bahkan sebagian ulama seperti Imam Malik, meninggalkan segala aktivitas ilmiah lainnya dan berkosentrasi penuh pada ibadah, ibadah mahdhah.

Adalah suatu kewajiban bagi kita untuk berlomba-lomba mencari keutamaan Lailatul Qadar di sepertiga terakhir bulan Ramadhan ini dengan niat yang ikhlas, dan hati yang bersih. Sehingga keluar di bulan Ramadhan sebagai pribadi-pribadi yang Muttaqin, yang siap beramal ibadah dengan kualitas Ramadhan di 11 bulan berikutnya. Amin.
Wallahu’alam bishshowab

 

cover-quran

Ditulis oleh Muladi Mughni, Lc. 

 

Refleksi Peringatan Nuzulul Qur’an

Pada malam hari di bulan ramadhan yang mulia ini, kita tengah memperingati malam Nuzulul Qur’an. Di mana “mayoritas” ulama berpendapat bahwa saat diturunkannya wahyu pertama Al-Quran yaitu terjadi pada bulan suci ramadhan. Hal ini juga diperkuat dengan firman Allah swt dalam surat Al-Qadr (1-5).

Sekalipun mayoritas ulama berpendapat turunnya Al-Qur’an terjadi pada bulan suci Ramadhan, namun hal ini tidak menyampingkan adanya perbedaan pendapat seputar tanggal atau waktu turunnya Al-Qur’an tersebut. Ada di antara sahabat Nabi dan ulama yang meriwayatkan bahwa Nuzulul Qur’an terjadi pada tanggal 17 Ramadhan, ada pula yang mengatakan 21, dan adapula yang berpendapat tanggal 23, 24 dan seterusnya. Kenapa terjadi perbedaan di antara para sahabat tentang persisnya tanggal Nuzulul Qur’an tersebut. Hal ini dapat dijawab, bahwa memang tidak ada keterangan resmi yang datang dari baginda Rasulullah saw mengenai kapan tepatnya tanggal diturunkannya Al-Qur’an tersebut. Sehingga semua perkataan dan pendapat yang sempat ditulis oleh ulama adalah murni hasil Ijtihad dan pendapat para sahabat belaka. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari menuliskan, bahwa terdapat kurang lebih 40 pendapat ulama seputar kapan Nuzulul Qur’an tersebut.

Dalam sebuah riwayat, pernah dinyatakan bahwa baginda Rasulullah saw hendak menyampaikan berita gembira tentang kapankah tepatnya malam Nuzulul Qur’an atau Lailatul Qadr tersebut. Namun ketika beliau hendak menyampaikan berita tadi, tiba-tiba terdapat dua orang sahabat yang tengah bertengkar sengit di dalam masjid Nabi, maka melihat kejadian tersebut maka Rasulullah saw enggan menyampaikan kabar berita tersebut, atau tepatnya keinginan untuk menyampaikan itu tiba-tiba sirna ketika melihat kejadian tersebut. 

Namun demikian, sesungguhnya dengan tidak jadinya Rasulullah saw mengabarkan berita di atas, terdapat hikmah yang luar biasa bagi ummat seluruhnya; yaitu, agar kita senantiasa bersungguh-sungguh mencari kapan tepatnya malam tersebut tiba. Dengan tidak adanya kabar yang pasti tentang malam Nuzulul Qur’an ini, seharusnya membuat kita tidak bermalas-malas dalam mencari anugerah malam tersebut. Justru dikhawatirkan jika kita telah mengetahui pasti waktu malam Nuzulul Qur’an tersebut, malah kita hanya akan mengandalkan hari itu saja untuk beribadah kepada Allah, sementara pada waktu-waktu lainnya kita tinggalkan tanpa nilai ibadah sedikitpun. Tentu hal ini amat sangat bertolak belakang dengan semangat Ramadhan yang merupakan bulan yang tidak hanya menuntut keimanan kita, namun juga keihlasan hati kita untuk beribadah selama satu bulan penuh, atau dalam bahasa agamanya biasa kita kenal dengan istilah “Al-Iman Wa Al-Ihtisab.”

Lalu bagaimana sejarahnya, kenapa kita dan khususnya masyarakat Muslim Indonesia memperingati Nuzulul Qur’an ini pada tanggal 17 Ramadhan seperti saat sekarang.? Ternyata jika kita membaca sejarah bangsa kita, peringatan Nuzulul Qur’an yang jatuh pada tanggal 17 Ramadhan ini tidak lepas dari gagasan H. Agus salim dan persetujuan Bung Karno (Presiden RI pertama). Seperti yang kita maklum bahwa bangsa kita mendeklarasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Maka sebagai rasa syukur yang tiada terhingga atas nikmat kemerdekaan ini pula, maka perayaan Nuzulul Qur’an disamakan tanggalnya yaitu sama-sama mengambil angka 17 bulan ramadhan. Seakan-akan para fouding fathers kita hendak mengatakan bahwa, mensyukuri nikmat kemerdekaan, tidak kalah dengan mensyukuri nikmat turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman ummat Islam. Maka mulai saat itu -di zaman Bung Karno- sampai sekarang peringatan Nuzulul Qur’an senantiasa diperingati di istana Negara pada tanggal 17 ramadhan dan kerap diikuti oleh sebagian besar ummat muslim di Indonesia. Untuk lebih detailnya silakan dilihat sebuah buku “Bung Karno dan Wacana Islam” (Kenangan 100 Tahun Bung Karno)

***

Sebetulnya jika kita telusuri keterangan yang berasal dari Hadits Nabi Muhammad saw, bulan suci Ramadhan ini tidak hanya dikhususkan bagi turunnya Al-Qur’an saja. Namun juga bagi kitab-kitab ummat yang terdahulu, seperti, Injil, Taurat, Zabur dan  Shuhuf Ibrahim as, seluruhnya Allah turunkan di bulan suci Ramadhan ini. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ra :

    “ Shuhuf Ibrahim as diturunkan pada awal bulan Ramadhan, kemudian Taurat pada hari ke-7 bulan Ramadhan, lalu Injil pada hari ke-13 Ramadhan, sedangkan Al-Qur’an pada hari ke-25 bulan Ramadhan.”

Sekalipun seluruh kitab-kita samawi itu sama-sama diturunkan pada bulan suci Ramadhan, namun terdapat beberapa kelebihan Al-Qur’an di banding kitab-kitab yang lainnya. Paling tidak kelebihan tersebut dapat dilihat dalam beberapa hal :

1.    Bahwa seluruh kitab-kitab samawi Allah turunkan secara sekaligus, sedangkan Al-Qur’an Allah turunkan secara berangsur-angsur.
2.    Seruan atau petunjuk yang terdapat dalam kitab-kitab samawi terbatas pada ummat saat kitab tersebut diturunkan, sedangkan Al-Qur’an petunjuk dan seruannya tidak terbatas pada saat Al-Qur’an itu diturunkan, namun mencakup seluruh manusia sampai dengan hari Kiamat, bahkan termasuk juga bangsa Jin.
3.    Seluruh kitab-kitab samawi tersebut mengalami pemalsuan, distorsi, bahkan hilang sama sekali dari muka dunia, sampai-sampai sekarang kita tidak dapat melihat wujud aslinya, sedangkan Al-Qur’an terjaga dari segala bentuk pemalsuan dan penyelewengan seperti di atas.

Terdapat suatu riwayat menerangkan (baca: kitab Muwafaqat, Imam Syatibi, Kitab Maqasid. H. 42), kenapa kitab-kitab samawi mengalami penyelewengan atau pemalsuan sedangkan Al-Qur’an terjaga dari semua hal itu. Maka dijawab oleh Qadhi Abu Ishaq Ismail bin Ishaq, bahwa berkenaan dengan kitab-kitab terdahulu kenapa sempat terjadi pemalsuan dan penyelewengan, hal itu karena Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Sebagaimana Allah memerintahkan mereka untuk menjaga Kitab Allah (Al-Maidah: 44). Ayat ini mengandung pengertian bahwa, keutuhan dan keotentikan kitab suci mereka “murni” tergantung pada usaha mereka untuk menjaganya. Sedangkan pada Al-Qur’an Allah tidak berkata demikian, akan tetapi “ Sesungguhnya Kami telah turunkan Al-Qur’an dan Kami pula yang akan menjaganya” (al-Hijr: 9). Artinya, keutuhan dan keotentikan Al-Qur’an tidak semata-mata murni usaha manusia atau ummat Muslim saja, namun juga terdapat interfensi Allah Swt atasnya. Maka sangat wajar, jika sesuatu yang dilandaskan pada kekuatan yang berasal dari Allah sendiri, akan berbeda dengan kekuatan yang hanya berasal dari manusia saja.
4. Kelebihan “surat” Al-Quran atas “surat-surat” kitab terdahulu. Para ulama tafsir berkata: “Al-Quran lebih unggul dari kitab-kitab samawi lainnya sekalipun semuanya turun dari Allah, dengan beberapa hal, diantaranya : jumlah suratnya lebih banyak dari yang ada pada semua kitab-kitab yang lain. Telah disebutkan dalam sebuah hadis bahwa Nabi kita Muhammad saw. diberi kekhususan dengan surat Al-Faatihah dan penutup surat Al-Baqarah. Di dalam Musnad Ad Darimi disebutkan, dari Abdullah bin Mas’ud ra. ia berkata: “Sesungguhnya Assab’uthiwal (Tujuh surat panjang dalam Alquran; Al-Baqarah, Ali-Imran, An-Nisaa,, Al-A’raaf, Al-An’aam, Al-Maa-idah dan Yunus) sama seperti taurat, Al-Mi’in (Surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat lebih, seperti Hud, Yusuf, Mu’min dan lain sebagainya) sama seperti Zabur dan Al-Matsani (Surat-surat yang berisi kurang dari seratus ayat. Seperti, Al-Anfaal, Al-Hijr dan lain sebagainya) sama dengan kitab Injil. Dan sisanya merupakan tambahan”.
Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan Thabrani, dari Wasilah bin Al-Asqa, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Telah diturunkan kepadaku Assab’uthiwal sebagai ganti yang ada pada Taurat. Diturunkan kepadaku Al Mi’in sebagai ganti yang ada pada Zabur. Diturunkan kepadaku Al Matsani sebagai ganti yang ada pada Injil, dan aku diberi tambahan dengan Al Mufashshal (surat-surat pendek).

***

Sebagaimana tema kita yaitu, apa urgensi al-Qur’an dalam Kehidupan Muslim. Namun sebelumnya perlu saya sampaikan bahwa sekalipun isi Al-Qur’an banyak menceritakan tentang kisah-kisah ummat terdahulu, akan tetapi Al-Qur’an bukanlah kitab sejarah, atau sekalipun Al-Qur’an sering menggambarkan alam kosmos beserta galaksinya, akan tetapi Al-Quran tidak dapat kita sebut sebagai kitab astronomi. Atau sekalipun al-Quran sering mengupas tentang bentuk penciptaan manusia secara detail dan juga penciptaan alam raya ini, akan tetapi Al-Qur’an bukanlah kitab pengetahuan Alam atau fisika. Melainkan  yang tepat adalah Al-Quran sebagai kitab hidayah atau petunjuk bagi seluruh alam. Jadi sekiranya terdapat cerita atau gambaran tentang hal-hal yang bertalian dengan geografi, sejarah, fisika, kedokteran dan lain-lain, hal tersebut hanyalah berfungsi sebagai bukti dan penjelasan untuk mencapai kepada satu tujuan hidayah yang Allah maksud tadi. Maka dari itu, terdapat beberapa syarat agar kita dapat menemukan hidayat yang dimaksud oleh Allah swt dalam kandungan yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Yang pertama : Kita harus terlebih dahulu membaca Al-Quran tersebut secara seksama, hal ini sebagaimana pesan wahyu pertama dalam surat al-Alaq, yang berbunyi (Iqra’) atau bacalah.!  

Yang kedua : Kita harus memahami isi dan kandungan yang terdapat dalam surat dan ayat yang kita baca tadi.  Hal ini disebabkan membaca saja tidak cukup untuk mengetahui rahasia kandungan dan maksud yang Allah maksud dalam Al-Qur’an tersebut.

Yang ketiga : Setelah kita memahami isi dan kandungan Al-Qur’an barulah kita mengajarkan kepada orang lain, agar orang lain pun dapat membaca dan memahami Al-Quran secara baik.  Sebagaimana hadits Nabi saw yang diriwatkan oleh Usman bin Affan ra. dari Nabi saw. ia bersabda ;  ”Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain”.(Bukhari). Al hafiz Ibnu Katsir dalam kitabnya Fadhail Quran halaman 126-127 berkata: Maksud dari sabda Rasulullah saw. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkan kepada orang lain” adalah, bahwa ini sifat-sifat orang-orang mukmin yang mengikuti dan meneladani para Rasul. Mereka telah menyempurnakan diri sendiri dan menyempurnakan orang lain. Hal itu merupakan gabungan antara manfaat yang terbatas untuk diri mereka dan yang menular kepada orang lain.

Yang keempat : Mengamalkan ajaran dan kandungan yang terdapat dalam Al-Qur’an. Pada tahap pengamalan inilah yang sangat berat, sebab pengetahuan yang didapat akan tidak berguna jika tidak dibarengi dengan pengamalan dalam prilaku dan perangai kita setiap harinya.

***

Dari keempat syarat ini barulah Al-Qur’an akan dapat dirasakan manfaatnya oleh kita semua, oleh sebab Al-Quran merupakan kitab petunjuk/hidayah. Apalagi jika kita benturkan  dengan kebutuhan hidup saat ini. Di mana setiap orang dengan segala kemajuan dan kecanggihan yang dicapai oleh manusia, justru malah mereka mencari suatu sistem nilai yang mereka anggap absolut. Kita sebagai ummat Islam tentu tidak perlu lagi meragukan apalagi mencari-cari sistem nilai lagi kecuali pada Al-Qur’an itu sendiri. Perlu dicatat bahwa kemunduran ummat Islam bukan terletak pada inti ajaran Al-Qur’an atau disebabkan ummat Islam setia pada ajaran Al-Qur’annya, sehingga  alam pikir dan daya kreatifitas mereka terhambat oleh al-Qur’an, akan tetapi justru dikarenakan faktor budaya dan ummat Islam malah sedikit demi sedikit telah menjauhkan dari Al-Qur’an.

Satu contoh, sangat ironis memang, di saat ajaran Al-Quran menganjurkan kepada ummatnya untuk membaca, namun kenyataannya Negara dan ummat yang terbesar buta hurufnya justru adalah ummat Islam. Dapat kita lihat pula, terkait dengan minat baca umat Islam Indonesia, dan orang Indonesia secara umum sangatlah lemah. Namun sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia, adalah ironis bahwa Muslim Indonesia belum mampu menerjemahkan wahyu pertama dalam kehidupan sehari-hari. Di belahan lain dunia Islam, kondisinya lebih baik. Di India dan Iran misalnya. Di kedua negara tersebut tradisi keilmuan yang memang telah lama mengakar terus lestari hingga kini. Dalam sejarahnya, bangsa Indonesia tidak memiliki satu peradaban dengan tradisi baca-tulis (baca: keilmuan) yang kuat. Dibutuhkan lebih dari sekedar kerja keras untuk menggapai hal itu. Nuzulul Quran bisa menjadi jawaban untuk semua itu. Dengan merujuk pada Al-Quran, adalah sahih untuk mengatakan bahwa menjadi seorang Muslim yang baik adalah menjadi pembaca yang baik. Semoga momentum Nuzulul Quran rasanya layak dijadikan pijakan awal transformasi budaya untuk lebih bersahabat dengan bacaan dan tulisan.

***

Sebagaimana yang telah kita singgung bahwa Surat Al-‘Alaq ayat 1-5 adalah wahyu verbal pertama yang diterima Nabi saw. Dalam kisah pewahyuan ayat-ayat ini, Nabi dikisahkan ‘dipaksa’ oleh malaikat Jibril untuk membaca (iqra’/bacalah!). Tapi saat itu Nabi merespon dengan menjawab “Saya bukanlah seorang yang bisa membaca”. Ada sebuah analisis menarik dari Dr. Tariq Ramadhan tentang peristiwa ini. Dia menulis bahwa karena Nabi adalah seorang ummi saat itu Nabi “mengungkapkan ketidakmampuan logis dan bila kemudian Nabi mampu membaca hal itu karena spiritualitas yang terkandung di dalam kalimat—‘dengan nama Tuhanmu’—membuka akses terhadap dimensi lain ilmu pengetahuan”.

Setidaknya ada beberapa hal yang menarik untuk dibicarakan. Pertama adalah bahwa Nabi saw., seorang ummi—tentang hal ini ada hikmah tersendiri dalam ayat lain—‘dipaksa’ untuk membaca. Hal ini memberikan impresi betapa Islam menekankan pentingnya membaca hingga dipilih seorang ummi, yang dipaksa untuk membaca, untuk menyampaikan pesan-pesannya. Kedua, keharusan untuk menyertakan spiritualitas dan keimanan dalam aktifitas pembacaan itu. Tentu hal itu tidak berarti meminggirkan peran nalar dalam proses pembacaan. Sebaliknya, rasionalitas (baca: ta’aqqul, tadabbur) adalah komponen utama dalam proses memahami dan menafsirkan ‘bacaan’, namun hal ini tidak boleh meminggirkan keimanan dan spiritualitas dalam prosesnya.

Selanjutnya, dalam analisis semantik bahasa Arab , pembuangan objek dari kata iqra’ memiliki implikasi bahwa objek yang dibaca adalah umum—disamping tentu saja Al-Qur’an sebagai kitab suci. Karenanya seorang yang beriman pada Al-Qur’an tidak perlu membatasi materi bacaan selama pembacaannya selalu menyertakan Bismi Rabbik. Pada tataran epistemologis frase Bismi Rabbik dapat dilihat sebagai rambu-rambu dalam ‘membaca’. Pembacaan tanpa menggunakan Bsmi Rabbik, katakanlah seperti filsafat sekuler—jika istilah ini disetujui, dapat melahirkan proses dan hasil yang berbeda dengan hasil pembacaan yang, sebutlah, Islami. Untuk sekedar menyebut contoh, bagi seorang rasionalis keraguan adalah metode epistemologis yang valid untuk mencapai kebenaran. Tapi hal ini ditolak oleh Al-Qur’an (10:36). Perintah membaca pada ayat pertama surat Al-‘Alaq dilanjutkan dengan isyarat terhadap pentingnya tulisan pada ayat keempat dan kelima. Tentang kaitan antara ayat 3-4 dan ayat sebelumnya, Al-Biqa’i menyatakan bahwa Allah mengajarkan pada Nabi saw. sekalipun saat itu beliau adalah seorang ummi sebagaimana Allah mengajarkan ilmu pada orang bodoh dengan pena. Disini terdapat penekanan terhadap pentingnya penulisan sebagai sarana transmisi ilmu yang dalam Islam mendapat tempat yang tinggi. Diantaranya adalah harus tersedianya sumber buku di Negara kita.

Dalam hal ini, berdasarkan data dari Intrenational Publisher Association Kanada, produksi perbukuan paling tinggi ditunjukkan oleh Inggris, yaitu mencapai rata-rata 100 ribu judul buku per tahun. Tahun 2000 saja sebanyak 110.155 judul buku. Posisi kedua ditempati Jerman dengan jumlah judul buku yang diterbitkan pada tahun 2000 mencapai 80.779 judul, Jepang sebanyak 65.430 judul buku. Sementara itu, Amerika Serikat menempati urutan keempat. Indonesia pada tahun 1997 pernah menghasilkan lima ribuan judul buku. Tetapi, tahun 2002 tercatat hanya 2.700-an judul. Sangat jauh apabila dibandingkan dengan produksi penerbitan buku tingkat dunia.

Belum lagi jika kita hendak kaitkan dengan angka rasio doktoral di setiap Negara, Almarhum Nurcholish Madjid pernah menyanyangkan rendahnya kualitas SDM bangsa kita di banding bangsa-bangsa lainnya, terutama dari bangsa-bangsa Barat. Kita lihat saja, berdasarkan data internasional atas angka rasio doktoral di setiap Negara dihitung per-satu juta kepala, yaitu diantaranya: Mesir dari satu juta penduduk Mesir terdapat 400 doktor, India dari satu juta orang India terdapat 600 doktor, Amerika terdapat 6.500 doktor, Israel (Yahudi) terdapat 65.000. Sedangkan Indonesia, dari satu juta orang Indonesia hanya ada 75 doktor. Tentu untuk bisa bersaing dengan bangsa-bangsa yang lain kita harus lebih meningkatkan SDM kita khususnya dalam dunia pendidikan.

Semoga dengan momentum Nuzulul Qur’an ini, kita dapat tergugah untuk meningkatkan kadar membaca kita, tentunya bacaan yang tidak melupakan aspek spiritualitas yang terkandung dalam kalimat “BismiRabbika” tadi. Dengan kecintaan kepada Al-Qur’an (membaca, memahami, & mengamalkannya) semoga  kita dapat lebih mendekatkan diri kepada hidayah Allah swt (menggapai derajat Taqwa). Sebab apa gunanya ilmu pengetahuan yang kita miliki, jika nanti hanya akan menjauhkan diri kita dari keRidha’an Allah swt.

Wallahu’alam Bishawab.

 

Izin Co-Pas dari www.arrahmah.com

M. Jibriel Abdul Rahman ” Saya menikmati ujian ini…! “

Jakarta (Arrahmah.com) – Alhamdulillah, hari ini, Selasa, 1 September 2009, Akhuna (saudara kita) M Jibriel Abdul Rahman bisa ditemui. Mengenakan kaos putih, celana krem, dengan senyum khasnya, pimpinan Ar Rahmah Media ini menemui rombongan yang dipimpin ayah beliau sendiri, Ustadz Abu Jibriel. Dalam kesempatan singkat tersebut, M Jibriel berpesan agar Arrahmah.com bisa tetap istiqomah memberitakan jihad dan berita dunia Islam. Allahu Akbar!

Dari Mabes Polri Ke Kelapa Dua

Rombongan berangkat dari kediaman Ustadz Abu Jibriel di Komplek Witana Harja, Pamulang sekitar pukul 11 pagi. Dengan dua mobil, rombongan pada awalnya meluncur ke Mabes Polri, Bareskrim, di Jl Trunojoyo No. 3, Kebayoran Baru. Tujuan rombongan sudah pasti ingin bertemu dengan Akhuna, M Jibriel, karena setelah 7 x 24 jam dari ‘penculikan’ beliau pada hari Selasa, 25 Agustus 2009, belum ada kejelasan baik status maupun kondisinya.

Rombongan tiba di Mabes Polri tidak lama setelah adzan zuhur berkumandang. Rombongan mendahulukan untuk sholat berjama’ah dipimpin langsung oleh Ustadz Abu Jibriel, sekaligus menjama’ dan menqoshor sholat. Setelah itu, rombongan ke ruang Bareskrim, dengan puluhan wartawan cetak dan elektronik yang selalu membuntuti. Sayangnya, M Jibriel tidak ada di sana. Ustadz Abu Jibriel tiba-tiba dikontak oleh Kadensus yang memberitahukan bahwa keberadaan M Jibriel ada di Markas Brimob, di Kelapa Dua, Depok. Rombongan pun bergegas menuju ke Kelapa Dua.

Pukul 2 tepat, rombongan berhasil masuk ke Markas Brimob Kelapa Dua yang dijaga sangat ketat, dimana wartawan pun tidak diperkenankan masuk. Setelah ditemui langsung oleh Kadensus di pintu masuk, dan sedikit basa-basi, Ustadz Abu Jibriel beserta istri, dan dua orang lawyer masuk terlebih dahulu untuk menemui Akhuna M Jibriel. Kurang lebih 30 menit kemudian, rombongan kedua menyusul, hingga semua rombongan bisa bertemu dan melihat langsung keadaaan M Jibriel. Alhamdulillah!

Istiqomah, dan Lanjutkan Perjuangan

Rasa haru dan syukur bercampur baur ketika melihat kondisi Akhuna M Jibriel yang sehat wal afiat, tidak kurang suatu apa pun. Wajah beliau cerah dan senyum selalu tersungging di bibirnya. Memang, ketika didekati, di hidung beliau, ada bekas luka, juga di mata sebelah kiri, terlihat lebam. Beliau juga mengiyakan kondisi tersebut dan mengatakan bahwa itu adalah ujian buat dirinya dari Allah SWT. Namun yang mengharukan adalah ucapannya bahwa dia menikmati ujian tersebut, bagaikan menikmati hidangan yang sangat lezat sekali. Itu yang beliau rasakan saat ini, Masya Allah.

Dengan senyum yang khas, beliau juga berpesan kepada Arrahmah.com dan seluruh sahabat-sahabat beliau, agar tetap istiqomah dalam menyuarakan dunia Islam dan jihad, serta tetap berimbang dalam pemberitaan. Dengan wajah ceria, beliau juga masih sempat menanyakan bagaimana kondisi kantor Arrahmah dan para pegawai, serta mendoakan agar mereka baik-baik saja. Setelah 1 jam lebih bersama beliau, rombongan pun harus pamit. Beliau dibawakan Mushaf Al Qur’an dan beberapa keperluan beliau. Ayah dan Ibu beliau berpesan, agar Al Qur’an yang mereka bawakan bisa menemani sepanjang hari, dan menasehati agar beliau selalu menjaga shalat.

Perjuangan & Doa Untuk M Jibriel

Rombongan meninggalkan Markas Brimob Kelapa Dua menjelang sore. Tentu saja, setelah memberi keterangan pers kepada para kuli tinta yang sudah lama menunggu di gerbang Markas Brimob sejak siang. Ustadz Abu Jibriel pun memberikan keterangan pers yang langsung diserbu oleh para wartawan. Ustadz Abu Jibriel menyampaikan apa adanya tentang keadaaan M Jibriel, anaknya, termasuk pemukulan yang dialaminya. Ustadz Abu Jibriel menganggap bahwa itu hak beliau sebagai seorang ayah untuk menyampaikannya.

Status Akhuna M Jibriel juga sudah berubah, menjadi tersangka. Anehnya, kali ini bukan lagi dengan tuduhan terkait dengan aliran dana untuk membiayai terorisme, namun dengan tuduhan lain, yakni tentang menyembunyikan informasi terorisme dan menyembunyikan buronan teroris. Tuduhan lainnya adalah terkait masalah imigrasi atau pemalsuan dokumen perjalanan. Semua tuduhan tersebut tentunya harus dibuktikan, dan bukan asal tuduhan.

Sepanjang perjalanan pulang rombongan tidak pernah lepas dari berdoa dan mempersiapkan perjuangan untuk Akhuna M Jibriel. Meskipun saat ini beliaunya sendiri merasakan ujian tersebut sebagai sesuatu yang ‘lezat’ dan merupakan kesempatan beliau untuk berkhalwat dengan Robbnya, Allah SWT, namun doa dan perjuangan untuk beliau tetap dibutuhkan. Semoga beliau juga tabah dan istiqomah dalam ujian tersebut, tidak bergeming dari jalan dakwah dan jihad, serta tetap dalam lindungan Allah SWT. Amien Ya Robbal Alamien…! (fachry/arrahmah.com)

Kiriman dari sahabat :

ALLAH

Connecting to Heaven & Earth Messenger

Sign in…

TUHAN :
Kamu memanggilKu ?

AKU :
Memanggilmu?
Tidak.. Ini siapa ya?

TUHAN :
Ini TUHAN.
Aku mendengar doamu.
Jadi Aku ingin berbincang-bincang
denganmu.

AKU :
Ya, saya memang sering berdoa,
hanya agar saya merasa lebih baik.
Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.

TUHAN :
Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.

AKU :
Nggak tau ya.
Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun.
Hidup jadi seperti diburu-buru.
Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.

TUHAN :
Benar sekali.
Aktivitas memberimu kesibukan.
Tapi produktivitas memberimu hasil.
Aktivitas memakan waktu,
produktivitas membebaskan waktu.

AKU :
Saya mengerti itu.
Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya.
Sebenarnya, saya tidak mengharapkan
Tuhan mengajakku chatting seperti ini.

TUHAN :
Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu,
dengan memberimu beberapa petunjuk.
Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium
yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.

AKU :
OKE, sekarang beritahu saya,
mengapa hidup jadi begitu rumit?

TUHAN :
Berhentilah menganalisa hidup.
Jalani saja.
Analisalah yang membuatnya jadi rumit.

AKU :
Kalau begitu mengapa kami manusia
tidak pernah merasa senang?

TUHAN :
Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin.
Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa.
Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu.
Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.

AKU :
Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu
banyak ketidakpastian.

TUHAN :
Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.
Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.

AKU :
Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.

TUHAN :
Rasa sakit tidak bisa dihindari,
tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.

AKU :
Jika penderitaan itu pilihan,
mengapa orang baik selalu menderita?

TUHAN :
Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan.
Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api.
Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita.
Dengan pengalaman itu, hidup mereka
menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.

AKU :
Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?

TUHAN :
Ya.
Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras.
Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.

AKU :
Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu?
Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?

TUHAN :
Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk
meningkatkan kekuatan mental.
Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan
dan rintangan, bukan dari berleha-leha.

AKU :
Sejujurnya, di tengah segala persoalan ini,
kami tidak tahu kemana harus melangkah…

TUHAN :
Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu
kemana kamu melangkah.
Lihatlah ke dalam.
Melihat ke luar, kamu bermimpi.
Melihat ke dalam, kamu terjaga.
Mata memberimu penglihatan.
Hati memberimu arah.

AKU :
Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita…
Apa yang dapat saya lakukan?

TUHAN :
Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.
Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri.
Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan
daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan.
Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran dengan
waktu.

AKU :
Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?

TUHAN :
Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan,
daripada masih berapa jauh saya harus berjalan.
Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung
apa yang tidak kau peroleh.

AKU :
Apa yang menarik dari manusia?

TUHAN :
Jika menderita, mereka bertanya “Mengapa harus aku?”.
Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya “Mengapa harus
aku?”

AKU :
Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya di sini?

TUHAN :
Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu.
Berhentilah mencari mengapa saya di sini.
Ciptakan tujuan itu.
Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.

AKU :
Bagaimana saya bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini?

TUHAN :
Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalan.
Peganglah saat ini dengan keyakinan.
Siapkan masa depan tanpa rasa takut.

AKU :
Pertanyaan terakhir, Tuhan.
Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.

TUHAN :
Tidak ada doa yang tidak dijawab.
Seringkali jawabannya adalah TIDAK.

AKU :
Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.

TUHAN :
Oke.
Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut.
Hidup adalah misteri untuk dipecahkan,
bukan masalah untuk diselesaikan.
Percayalah padaKu.
Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.

………TUHAN has signed out

GOD never give up on you, unless you giving up on Him   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.